Guru SD di Sleman, SPR (tengah), yang mencabuli belasan anak didiknya. Medcom.id/Ahmad mustaqim
Guru SD di Sleman, SPR (tengah), yang mencabuli belasan anak didiknya. Medcom.id/Ahmad mustaqim

Guru SD di Sleman Cabuli Belasan Siswa

Nasional pencabulan cabul
Ahmad Mustaqim • 07 Januari 2020 15:58
Sleman: Seorang guru Sekolah Dasar (SD) negeri di Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, SPR, jadi tersangka kasus pencabulan. Ada belasan siswa yang telah menjadi korban perilaku bejat lelaki 48 tahun berstatus pegawai negeri sipil (PNS) itu.
 
"Ada 12 siswi yang jadi korban SPR. Tindakannya dilakukan saat kegiatan sekolah," kata Kepala Unit (Kanit) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Sleman, Iptu Bowo Susilo dalam konferensi pers pada Selasa, 7 Januari 2020.
 
Bowo mengatakan, wali kelas 6 di SD itu kali terakhir melakukan tindakan bejatnya pada saat ada kegiatan perkemahan di Lapangan Mororejo, Kecamatan Tempel, Sleman pada 13 Agustus 2019. Di dalam tenda, kata Bowo, SUP mencabuli empat siswi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari kejadian itu, seorang siswi lantas memberanikan diri melapor kepada guru. Kurang dari dua minggu kemudian, SPR dilaporkan ke Polres Sleman.
 
Menurut Bowo, Unit PPA telah memeriksa enam anak korban nafsu bejat SPR. Ia mengatakan enam siswa lainnya tidak diperiksa karena mengalami rasa trauma.
 
"Yang enam (anak) lainnya kita tidak melakukan pemeriksaan dari orang tuanya juga mempertimbangkan psikologis anak tidak diperbolehkan," kata Bowo.
 
Dari hasil pemeriksaan saksi, SPR disebut juga melakukan pencabulan di ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). SPR mengelabuhi siswanya dengan dalih proses belajar mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Peristiwa ini terjadi pada Juli 2019.
 
Di sisi lain, SPR juga sempat mengancam sejumlah korbannya agar tidak bercerita kasus itu ke siapapun. SPR mengancam tak akan meluluskan siswi yang membocorkan tingkah lakunya.
 
"Pelaku mengancam korban dengan memberi nilai C kalau menceritakan ke orang lain, bahkan hingga tidak akan diluluskan. Setelah kasus ini ketahuan dan merebak, SPR ini ditarik ke Dinas Pendidikan (Sleman)," ungkap Bowo.
 
Bowo menambahkan, aparat masih mendalami kasus itu sejak SPR berstatus tersangka pada 8 Desember 2019. Ia menyebut, proses penelusuran butuh bukti kuat untuk menjerat pidana pelaku. Mulai dengan proses visum psikiatrikum hingga proses pemeriksaan psikologis kepada korban.
 
"Pelaku ini (lakukan pencabulan) untuk jadi kepuasan diri. (SPR) sudah punya keluarga, anak dua dan istri," ungkapnya.
 
Polisi menjerat SPR dengan Pasal 82 ayat 1 dan 2 junto Pasal 76 e UU Nomor 17 tahun 2016 tentang tentang Perlindungan Anak. Ancaman pasal tersebut maksimal 15 tahun penjara.
 
"Karena tersangka ini tenaga pendidik, ancaman hukumannya diperberat, pada pasal 2 ayat 2 itu, apabila tersangka adalah sebagai tenaga pendidik atau orang tua wali ancaman hukumannya diperberat sepertiganya," ujar Bowo.
 


 

(ALB)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif