Ilustrasi. (Foto: MI/Bary Fathahilah)
Ilustrasi. (Foto: MI/Bary Fathahilah)

Pemkab Bantul Tetap Berdayakan Tenaga Honorer

Nasional tenaga honorer
Ahmad Mustaqim • 28 Januari 2020 15:07
Bantul: Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyatakan akan mempertahankan tenaga honorer, terutama yang bertugas sebagai guru.
 
Kepala Disdikpora Bantul, Isdarmoko, mengatakan guru honorer sangat dibutuhkan lantaran jumlah pengajar berstatus aparatur sipil negara (ASN) jauh dari ideal. Kekurangan pengajar bahkan mencapai belasan ribu orang.
 
"Dilematis memang, tapi siapa yang mau mengajar. Di sekolah ada pelajaran tapi tidak ada pengajarnya kan tidak mungkin. Solusinya sekolah tetap mengangkat guru honorer," kata Isdarmoko, Selasa, 28 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mencontohkan, jumlah kebutuhan guru ASN untuk sekolah dasar sekitar 700 orang. Sementara guru dengan status pegawai pemerintah untuk tingkat SD hanya 300-an. Jika ditambah dengan kebutuhan guru untuk sekolah swasta, kekurangan pengajar untuk semua tingkar pendidikan mencapai 13 ribu orang.
 
"Kekurangan guru ini belum termasuk di sekolah swasta atau sekolah yang jadi kewenangan yayasan. Kondisi seperti ini (kekurangan guru) sudah terjadi dalam beberapa tahun," ungkapnya.
 
Menurut dia, moratorium penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) menjadi salah satu penyebab sekolah kekurangan pengajar. Di sisi lain, ada puluhan guru ASN yang pensiun setiap bulan. Jumlah itu tak seimbang jika dibandingkan dengan kuota penerimaan ASN yang hanya 308 orang.
 
Isdarmoko menyebut, ada 391 SD dan 109 SMP di Bantul. Beberapa SD di antaranya hanya memiliki satu atau dua guru bertatus ASN. Padahal jumlah kelas di SD minimal enam, atau disebut enam (kelas) rombongan belajar (rombel).
 
"Mestinya jika SD ada enam rombel, ada enam ASN plus kepala sekolah, plus guru agama, dan plus guru olahraga,” tutur dia.
 
Ia menambahkan jumlah jam mengajar para guru saat ini rata-rata 24 hingga 30 jam dalam sepekan. Durasi ini bahkan telah dikurangi dari 40 jam.
 
"Terlalu banyak jam mengajar bisa membuat guru tak optimal menyampaikan pelajaran," jelasnya.
 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif