Seorang warga memperbaiki pipa saluran air untuk pertanian usai diterjang banjir bandang di Kampung Cileles, Desa Cintamanik, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Garut, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Adeng Bustomi)
Seorang warga memperbaiki pipa saluran air untuk pertanian usai diterjang banjir bandang di Kampung Cileles, Desa Cintamanik, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Garut, Jawa Barat. (Foto: ANTARA/Adeng Bustomi)

PVMBG Selidiki Penyebab Banjir Bandang Garut

Nasional banjir bandang tanah longsor bencana alam Bencana Banjir banjir bandang garut
Media Indonesia.com • 03 Desember 2021 10:55
Garut: Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) masih melakukan analisis guna mencari penyebab bencana banjir bandang di Kecamatan Sukawening dan Karangtengah, Kabupaten Garut, Jawa Barat, pada akhir pekan lalu.
 
Pejabat fungsional PVMBG, Edi Mulyadi, mengatakan, terdapat beberapa faktor yang diselidiki di lapangan, seperti susunan bebatuan, bentang alam, aliran air, tata guna lahan, mekanisme terjadinya banjir bandang, dan penyebabnya. Hasil analisis akan dipadukan dengan data tambahan guna menerbitkan rekomendasi untuk Pemerintah Kabupaten Garut.
 
"Berdasarkan hasil penyelidikan, kondisi geologi di wilayah itu terdiri dari berbagai jenis bebatuan dan yang paling atas itu merupakan batuan gembur, rapuh, produk dari gunung api purba di wilayah itu, seperti Talaga Bodas dan Karaha Bodas. Sementara, kondisi bentang alam wilayah itu merupakan daerah pegunungan dengan kemiringan yang sangat terjal dan di bagian tengah relatif lebih landai," katanya, Jumat, 3 Desember 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan, faktor bentang alam vegetasi di wilayah tersebut relatif minim pepohonan berakar kuat dan dalam. Mayoritas tanah difungsikan sebagai sawah dan kebun.
 
Di sisi lain, aliran air yang melintasi wilayah itu cukup deras karena ada beberapa anak sungai. Jika terjadi hujan ekstrem, air akan mengisi celah bebatuan yang berpotensi membuat erosi di perbukitan terjal. Akibatnya, material bebatuan menjadi rapuh dan berlumpur lalu terbawa hingga muara sungai di bawahnya.
 
Baca juga: Kronologi 3 Mahasiswi Unsri Terima Pelecehan Seksual dari Dosen
 
"Secara kasat mata, ada sekitar lima longsoran bermuara di sungai. Kalau dilihat di drone mungkin akan lebih banyak lagi," ungkap Edi.
 
Ia menilai longsoran terjadi akibat kegemburan tanah dan vegetasi yang kurang padat hingga air hujan menggiris tanah lunak dan longsoran tersebut kemudian membendung aliran sungai. 
 
"Jadi suatu saat akan jebol lalu terakumulasi air yang besar," ujarnya.
 
Dengan kondisi itu, lanjut Edi, aliran sungai tidak akan mampu menampung debit air sehingga jangkauannya akan melebar dan dapat menyapu permukiman warga di sekitar aliran sungai.
 
Namun, salah satu penyebab banjir bandang juga karena tata guna lahan yang tidak mendukung aliran air. Di sisi lain, kondisi bebatuan di bagian atas cenderung gembur sehingga ketika curah hujan ekstrem dapat memicu terjadinya longsor dan banjir bandang.
 
"Ada pendapat lain yang menyebut tidak ada alih fungsi lahan di wilayah bahkan alih fungsi lahan mungkin tak terjadi dalam kurun 10 tahun terakhir. Tapi kenyataannya di wilayah itu banyak ditanami sayuran dan sawah sedangkan tanaman tinggi relatif sedikit. Tanaman sayuran dan sawah tidak akan mampu menyerap air sehingga suatu saat bisa terjadi longsor," paparnya.

 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif