ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Sudah Dua Bulan Kami Tidak Pulang ke Rumah

Nasional Virus Korona
Roylinus Ratumakin • 23 Mei 2020 11:27
Jayapura: Suara Eduardus Putra Larto, terdengar lemas saat ditelpon Medcom.id. Perawat berusia 34 tahun itu mengaku baru saja tiba di kamar 305 di Hotel Metta Star Waena, usai menjalankan dinas sore.
 
Sudah tujuh tahun lelaki asal Manggarai Barat, Flores, NTT, bekerja di RS Dian Harapan Waena, fasilitas kesehatan milik Keuskupan Jayapura itu.
 
Ketika pandemi covid-19 melanda Papua dan jumlah kasus terus bertambah, rumah sakit tempatnya bekerja pun akhirnya menerima dan melayani pasien covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Warga Jayapura Didenda Rp150 Ribu Jika Tak Pakai Masker
 
Sejak 17 Maret 2020 saat ia dan rekan-rekan perawat lain menyatakan diri siap bekerja di ruang isolasi covid, mereka tidak pulang rumah usai menjalankan tugasnya. Sebab sesuai SOP, semua petugas medis, termasuk tim pengambil sampel, diwajibkan mengikuti karantina di tempat khusus. Tujuannya agar mereka tidak menularkan virus ke anggota keluarga bila pulang.
 
"Ya benar, sudah dua bulan saya dan teman-teman belum pulang rumah. Kami awalnya diisolasi di Guest House milik rumah sakit. Lalu pindah ke Hotel Horison, Kotaraja. Dan sekarang, khusus RS Dian Harapan, kami tinggal di Hotel Metta Star Waena,” kata Edu, Sabtu, 23 Mei 2020.
 
Edu mengatakan selama ini dia bertugas di Poli Mata RS Dian Harapan. Ia mengaku siap bekerja di ruang isolasi covid ketika pimpinan memilihnya. Sekalipun ia tahu pekerjaan ini berat dan penuh risiko.
 
Edu teguh pada sumpah profesi yang sudah diambilnya. Apalagi rumah sakit Katolik tempat ia bekerja sangat mengutamakan kemanusiaan. Sebagaimana mottonya, Salus Aegroti Suprema Lex Est: Keselamatan Pasien Adalah Hukum Tertinggi.
 
Tanggal 28 April 2020, istri Edu berulang tahun ke-34. Momen berharga itu tak dihadirinya. Ia sudah terlanjur masuk tempat karantina. Untuk memberi semangatnya dalam bekerja, kadang ia sering menulis nama istri dan anaknya di baju hazmat yang dipakainya.
 
"Kita kekurangan tenaga, makanya tak bisa pulang dua bulan ini," keluh Edu.
 
Pengakuan yang sama datang dari Yosep Jalong, Amd.AK. Yosep dipercayakan sebagai Ketua Tim Sampel Pasien Covid-19. Ia punya dua anggota, Iforia Rensa, AMK dan Ika Wahyuningsih Iriani Amd.Kes.
 
Tugas mereka juga penuh risiko dalam penanganan covid di RS Dian Harapan. Mereka mengambil sampel darah dan swab pasien dan mengantarnya ke Litbangkes Papua untuk diperiksa dengan menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR).
 
"Kami juga sudah tiga minggu tidak pulang. Pas istri saya ulang tahun 4 Mei lalu, hari itu kami masuk karantina di Hotel Metta Star. Sebelumnya kami memang sudah bekerja begini tapi pulang rumah, karena Guest House rumah sakit penuh dengan perawat," kata Yosep.
 
Hanya beranggotakan dua tenaga sampling bukan perkara mudah. Yosep mengaku sistem shift atau tugas bergantian, kadang kacau tak sesuai jadwal ketika ada pasien baru yang harus diambil sampelnya. Waktu off atau libur pun kebanyakan hilang. Tetapi ia mengaku tetap semangat untuk bekerja.
 
Iforia Rensa, anggota Tim Sampel Covid RS Dian Harapan mengisahkan hal yang sama. Tiga minggu tidak pulang rumah memang bukan hal yang mudah. Sebagai ibu dan istri, ia juga rindu dengan kedua anaknya dan sang suami. Rumahnya di Doyo, Kabupaten Jayapura.
 
"Kemarin tanggal 9 Mei, anak yang bungsu ulang tahun ke-11. Saya hanya bisa ucap ulang tahun lewat video call dengan dia. Tentu saja ditambah dengan doa dari jauh untuknya," kata Iforia.
 
Pengabdian yang penuh risiko ini dijalani Iforia dengan senang hati. Hanya saja ia sedih melihat jumlah pasien di Papua, khususnya Kota Jayapura terus bertambah. Ia berharap masyarakat bisa mengikuti himbauan pemerintah dan protokol kesehatan seperti wajib pakai masker kalau keluar rumah, jaga jarak, hindari kerumunan atau berkumpul, rajin cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan sedapat mungkin tinggal di rumah saja.
 
Direktur RS Dian Harapan dr. Ance Situmorang mengatakan sebagai rumah sakit mitra Pemerintah Provinsi Papua, pihaknya siap dan setia mendukung penanganan pasien covid, baik yang positif maupun Pasien Dalam Pengawasan (PDP).
 
"Untuk RS Dian Harapan, mulai 2 April 2020 kami sudah membuka 30 tempat tidur di ruang Isolasi Covid, dimana alur pasien Covid dan pasien non Covid dibuat berbeda," kata Ance.
 
Ance mengaku untuk mendukung pelayanan dan operasional mereka, Pemerintah Provinsi Papua memang membantu rumah sakit yang dipimpinnya dengan sejumlah bantuan. Ada Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan hazmat bagi tenaga medis, alat kesehatan dan juga bantuan uang tunai sebesar Rp500 juta.
 
Caption: Para petugas kesehatan RS Dian Harapan dengan Alat Pelindung Diri (APD) berupa masker dan hazmat. Foto: RS Dian Harapan.
 

(DEN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif