Ilustrasi. FOTO: MI/USMAN ISKANDAR
Ilustrasi. FOTO: MI/USMAN ISKANDAR

Pertumbuhan Ekonomi Jateng Triwulan I Melambat 0,26%

Nasional Pertumbuhan Ekonomi ekonomi daerah jawa tengah Perekonomian Indonesia
Mustholih • 12 Mei 2022 19:44
Semarang: Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mengalami sedikit pelambatan pada triwulan I 2022. Kepala Bank Indonesia Jawa Tengah, Rahmat Dwi Saputra, mengatakan pada triwulan I 2022 ekonomi Jateng tumbuh 5,16 persen atau 0,26 persen lebih kecil dari triwulan sebelumnya yang mencapai 5,42 persen.
 
"Meski melambat, pertumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa pemulihan ekonomi Jawa Tengah masih terus berlanjut," kata Rahmat Dwi Saputra di Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 12 Mei 2022.
 
Baca: Airlangga: Pembangunan Ekonomi di Kawasan Jatim Harus Rampung 2024

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari sisi pengeluaran, kata Rahmat, sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah didorong oleh konsumsi Rumah Tangga (RT) dan ekspor luar negeri. Sedangkan sisi lapangan usaha (LU), sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi Jateng ditopang oleh industri pengolahan, pertanian, serta transportasi dan pergudangan.
 
Rahmat menyatakan konsumsi RT di Jateng tumbuh 4,30 persen akibat Covid-19 yang terkendali, peningkatan pencapaian vaksinasi dosis lengkap, dan percepatan vaksin booster.
 
"Kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga turut mendorong perbaikan konsumsi masyarakat, antara lain, berupa relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan low cost green car (LCGC) sebesar 100 persen dan non-LCGC sebesar 50," jelas Rahmat.
 
Selain itu, kata Rahmat, penetapan kebijakan loan to value (LTV) di sektor properti dan kendaraan bermotor, serta Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) pembelian properti sebesar 50 persen hingga Juni 2022 juga turut mendorong konsumsi rumah tangga.
 
Rahmat menyatakan kinerja ekspor luar negeri nonmigas Jateng juga mengalami sedikit perlambatan pada triwulan I 2022. Meski terbilang masih tumbuh tinggi sebesar 28,23 persen, kinerja ekspor luar negeri Jateng lebih rendah dari triwulan sebelumnya yang sebesar 55,43 persen.
 
"Perlambatan ekspor dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas dan permintaan eksternal. Penurunan kinerja ekspor juga sejalan dengan permintaan yang kembali normal paska Natal dan Tahun Baru, serta penurunan daya beli masyarakat dunia di tengah peningkatan inflasi dan eskalasi tensi geopolitik Rusia-Ukraina," ungkap Rahmat.
 
Sementara kata Rahmat kinerja konsumsi Pemerintah Jateng terkontraksi sebesar 1,22 persen akibat realisasi transfer dari Pemerintah Pusat berupa dana alokasi umum (DAU), dana alokasi khusus (DAK), dana bagi hasil (DBH) yang cenderung rendah.
 
"Hal tersebut dipengaruhi oleh persyaratan penyaluran dana pemerintah pusat yang belum terpenuhi pada triwulan I 2022," ujarnya.
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif