Tanah ambles di Gunungkidul yang terjadi akibat faktor ekologi. Medcom.id/Ahmad Mustaqim  2 Attachments
Tanah ambles di Gunungkidul yang terjadi akibat faktor ekologi. Medcom.id/Ahmad Mustaqim 2 Attachments

Tanah Ambles Biasa Terjadi di Gunungkidul

Nasional tanah ambles
Ahmad Mustaqim • 10 Januari 2020 08:48
Gunungkidul: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat puluhan kasus tanah ambles sejak 2018. Fenomena tanah ambles disebut biasa terjadi di kawasan Gunungkidul yang merupakan kawasan batuan karst.
 
"Jika ada lubang di antara batuan (karst), air akan membawa tanah dan meninggalkan lubang. Kalau (lubang) besar berbentuk luweng, yang (lubang kecil disebut ponor," ucap Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edi Basuki saat dihubungi Kamis, 9 Januari 2020.
 
Dia menerangkan Gunungkidul berada di kawasan karst yang memiliki aliran sungai di bawah batuan. Dia menerangkan kejadian tersebut merupakan hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan alam atau ekologi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Edi menuturkan luweng maupun ponor ada di berbagai titik di Gunungkidul. Posisi luweng dan ponor dominan berada di daerah cekungan.
 
Dia melanjutkan air hujan akan mengalir ke titik cekungan dan mengakibatkan genangan. Genangan yang bertahan membuat tanah menjadi halus dan masuk ke dalam luweng ataupun ponor.
 
"Air menggenang lama bersama tanah larut dan masuk ke ponor-ponor tersebut. Kalau di bawah lebih bisa mengakibatkan tanah di atasnya akan ambles. Ini fenomena yang biasa di wikayah karst," ujarnya.
 
Pihaknya mencatat pada 2018, ada 32 lubang akibat tanah ambles yang tersebar di tujuh kecamatan. Lubang yang disebut sinkhole ini berada di Kecamatan Girisubo, Rongkop, Ponjong Semanu, tanjungsari, Saptosari dan Purwosari.
 
"Lebih dari 30 kejadian pada 2018. Tahun lalu tidak ada karena musim hujan mundur jadi awal 2020," imbuhnya.
 
Pada awal 2020, tanah ambles terjadi di beberapa lokasi di antaranya Kecamatan Girisubo dan terbaru terjadi di Kecamatan Panggang. Kedalaman lubang di tanah ambles bervariasi mulai dua meter hingga empat meter.
 
"Kami mengimbau jangan membuang sampah di lubang tanah yang ambles. Siapa tahu ponor masuk sampai sungai bawah tanah yang airnya dimanfaatkan untuk kita semua. Jangan sampai sampah yang dibuat malah mengganggu ekosistem di sungai bawah tanah," jelasnya.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif