Tiang bagian dari EWS yang akan mengeluarkan bunyi sirine sesaat berpotensi terjadi bencana longsor. Medcom.id
Tiang bagian dari EWS yang akan mengeluarkan bunyi sirine sesaat berpotensi terjadi bencana longsor. Medcom.id

Pemasangan EWS Berbasis Teknologi di DIY Dilakukan Bertahap

Nasional longsor bencana longsor bencana banjir
Ahmad Mustaqim • 09 Desember 2019 16:26
Kulon Progo: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengagendakan pemasangan alat peringatan dini atau early warning system (EWS) bencana longsor berbasis teknologi secara bertahap. EWS Berbasis teknologi ini telah terpasang di berbagai lokasi.
 
"Tahun ini (pemasangan) di Kulon Progo," kata Manajer Pusat Pengendalian Operasi BPBD DIY, Danang Samsurizal di sela pemantauan kondisi EWS di Dusun Ngrancah, Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, DIY, Senin, 9 Desember 2019.
 
Ia menerangkan, alat tersebut terpasang di lokasi-lokasi rawan longsor. Mulai untuk mengukur gerakan tanah, kemiringan lereng, hingga kelembaban tanah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Alat yang terpasang itu terdapat sensor yang terkoneksi dengan gawai. Dari sensor itulah akan mengirimkan laporan kondisi di lapangan ke gawai orang yang mengoperasikannya. Pengoprasian dari petugas BPBD hingga perangkat desa.
 
"Alat ini setiap saat mengirim data ke server kami. Hujan deras diikuti longsor, kita jadi tahu. Kadus (kepala dusun), artinya ada waktu menginformasikan ke warga," ujarnya.
 
Pemasangan EWS Berbasis Teknologi di DIY Dilakukan Bertahap
Gawai yang dipakai untuk mengoperasikan EWS longsor.
 
Danang mengatakan, alat tersebut dipasang di tiga lokasi di Kulon Progo, yakni Dusun Ngrancah, Desa Pendoworejo; Dusun Klepu, Desa Banjararum; dan Dusun Jeruk, Desa Gerbosari. Di Kabupaten Bantul, terpasang di Dusun Tambalan, Desa Srimartani; Dusun Bojong, Desa Wonolelo; dan Dusun Lemahrubuh, Desa Selopamioro.
 
Menurut dia, alat-alat yang terpasang itu menjadi contoh untuk diduplikasi di lokasi lain. Alat itu dibuat bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menghabiskan dana sekitar Rp800 juta per satuannya. Ia mengatakan alat itu bisa diproduksi lebih murah setelah sistemnya telah dipegang.
 
"Kalau kita sudah kuasai teknologinya, harapannya bisa direplikasi," ungkapnya.
 
Ia mengatakan ada ratusan EWS manual yang terpasang di Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo. Namun, ada banyak yang dalam kondisi rusak.
 
Danang beharap alat yang sudah ada itu bisa dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Ia mengatakan warga bisa ikut merawat dengan melihat fungsi atau tidaknya dari parameter laporan ke gawai. Sementara, jika ada kerusakan teknis akan diperbaiki petugas BPBD..
 
"Artinya, ada tim yang harus memperbaiki. Kadang butuh tenaga yang ekstra kalau di bukit-bukit," kata dia.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif