Petani di Gunungkidul saat mengoperasikan Atabela. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Petani di Gunungkidul saat mengoperasikan Atabela. Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Petani Gunungkidul Bikin Alat Mempermudah Menanam

Nasional pertanian
Ahmad Mustaqim • 05 Desember 2019 11:55
Gunungkidul: Atabela merupakan akronim alat tanam benih langsung. Alat itu dibuat oleh Jayadi, petani di Dusun Kernen, Desa Ngunut, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
 
"Alat ini bisa meringankan kerja petani, salah satunya untuk menanam padi," kata Jayadi, di Gunungkidul, Kamis, 5 Desember 2019.
 
Atabela dibuat dari struktur besi, kayu, dan plastik. Alat tersebut ditopang dua buah roda di kiri dan kanannya agar mudah digunakan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Atabela dilengkapi dua tabung sebagai tempat benih. Selanjutnya benih otomatis ditanam di lahan garapan, setelah tanah dilubangi oleh Atabela, saat ditarik penggarap tanah. Posisi benih di dalam tabung telah diatur, sehingga bisa jatuh tepat ke dalam lubang.
 
"Jarak tanam antar kanan dan kiri sekitar 40 sentimeter. Sedangkan jarak tanam depan dan belakang, 10 sentimeter," jelasnya.
 
Dia menjelaskan aturan jarak yang dibuat memberi ruang agar sinar matahari bisa menyinari tanaman. Dia mengungkap Atabela memangkas waktu tanam benih dan mengurangi biaya produksi.
 
"Lahan seluas 1.000 meter persegi biasa dikerjakan dua orang dan selesai dua hari. Dengan Atabela, lahan 1.000 meter persegi rampung dalam tiga jam, dikerjakan oleh dua orang. Satu orang menarik alat, lainnya mendorong dari belakang," bebernya.
 
Dia mengungkap untuk lahan pertanian satu hektare harus dikerjakan empat orang. Kini, dengan menggunakan Atabela cukup dua orang penggarap.
 
"Upahnya Rp75 ribu per hari. Ini jadi hemat pengeluaran petani," ujarnya.
 
Jayadi menerangkan butuh biaya Rp1,8 juta untuk membuat Atabela. Pengerjaan memakan waktu satu hari. Dia berencana memodifikasi Atabela dengan mesin, sehingga mempercepat penggarapan sawah.
 
"Memang pernah ada alat serupa, tapi tidak efektif dipakai di Gunungkidul dengan kodisi lahan keras," kata dia.
 
Dia berharap melalui Atabela, para pemuda di kampungnya tetap mau menggarap lahan. Dia mengatakan alat tersebut adalah kontribusi yang bisa diberikan agar regenerasi petani tidak terputus.
 
"Petani di Gunungkidul rata-rata sudah tua, sedangkan mereka harus menggenjot produksi lahan. Ditambah lagi generasi muda minatnya dipertanian minim," tandasnya.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif