Kabut asap menyelimuti Jembatan Siak IV di Kota Pekanbaru, Riau, Jumat (13/9/2019). Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatera menyatakan hasil pengukuran Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagian besar daerah di Riau dalam kategori berba
Kabut asap menyelimuti Jembatan Siak IV di Kota Pekanbaru, Riau, Jumat (13/9/2019). Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sumatera menyatakan hasil pengukuran Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagian besar daerah di Riau dalam kategori berba

Kabut Asap 'Telan' Jembatan Siak IV

Nasional kabut asap
ant • 13 September 2019 13:47
Pekanbaru: Kabut asap di Pekanbaru hingga Jumat, 13 September 2019 semakin pekat. Bahkan Jembatan Siak IV di wilayah itu tak tampak.
 
Rudi, warga Pekanbaru, mengaku tak melihat Jembatan Siak IV, padahal jarak pandang dari dia berdiri di Jembatan Siak III diperkirakan hanya berjarak 500 meter.
 
"Benar-benar Enggak kelihatan Jembatan Siak IV, Ini kabut asap berarti sudah parah sekali," kata Rudi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Warga lainnya, Mike Agnesia, 36, mengatakan sengaja turun dari motor dan memotret kondisi hilangnya Jembatan Siak IV dengan gawainya untuk diunggah ke media sosial.
 
"Sebesar itu jembatan bisa hilang 'ditelan' kabut asap," kata Mike terheran-heran.
 
Sementara itu, Staf Analisa BMKG Stasiun Pekanbaru, Bibin Sulianto mengatakan kabut asap Karhutla di Provinsi Riau semakin pekat dan membuat jarak pandang di sejumlah daerah turun drastis hanya berkisar 200 hingga 400 meter pada Jumat, 13 September 2019 pagi.
 
Ia menjelaskan, jarak pandang anjlok pada pukul 07.00 WIB. Di Kota Pekanbaru jarak pandang hanya 300 meter, begitu juga di Rengat Kabupaten Indragiri Hulu sekitar 300 meter dan Kota Dumai jarak pandang 400 meter.
 
Bibin menjelaskan, selang dua jam atau pukul 09.00 WIB, jarak pandang di Pekanbaru naik jadi 800 meter dan Pelalawan juga mulai membaik tapi masih di angka 300 meter.
 
Sementara itu, di Kota Dumai dan Rengat jarak pandang belum membaik masih sekitar 400 dan 300 meter. Ia mengatakan pekatnya kabut asap disebabkan Karhutla masih ada di Riau dan provinsi tetangga yang berada di bagian selatan Sumatra.
 
Kondisi angin yang berembus dari tenggara hingga selatan membawa polutan jerebu ke Riau. Jerebu menumpuk di daerah Riau karena embusan angin cenderung lambat.
 
"Kecepatan angin di Riau sendiri tergolong lambat, hanya 5 knot atau 10 kilometer per jam,"
katanya.
 
Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, pada Jumat pagi pukul 06.00 WIB terpantau ada 1.319 titik panas (hotspot) yang jadi indikasi awak Karhutla di Pulau Sumatra.
 
Titik panas paling banyak di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) yakni 537 titik, kemudian Jambi 440 titik, dan Riau sendiri ada 239 titik panas.
 
Khusus di Riau, titik panas paling banyak di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) ada 127 titik,
Indragiri Hulu (Inhu) 31 titik, Pelalawan 30 titik, Rokan Hilir (Rohil) 18 titik, Kuansing dan Kampar masing-masing 11 titik, Bengkalis 7 titik, Siak 3 titik dan Kota Dumai ada satu titik.
 
Dari jumlah tersebut ada 177 yang dipastikan titik api. Lokasi paling banyak di Inhil dengan 98 titik.
 
Kemudian di Inhu sebanyak 20 titik, Pelalawan 21 titik, Rohil 13 titik, Kuansing 9 titik, Kampar 8 titik, Bengkalis 6 titik, dan Siak dua titik.

 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif