Penyegelan lahan PT Adei Plantation and Industry oleh Gakkum KLHK. Foto: ANT/Hadly Vavaldi
Penyegelan lahan PT Adei Plantation and Industry oleh Gakkum KLHK. Foto: ANT/Hadly Vavaldi

Bareskrim Segel Lahan Perusahaan Sawit Malaysia

Nasional Kebakaran Lahan dan Hutan
Rudi Kurniawansyah • 21 September 2019 13:22
Pekanbaru: Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri menyegel lahan perkebunan kelapa sawit asal Malaysia, PT Adei Plantation and Industry yang terbakar seluas 4,25 hektare di Divisi II Desa Batang Nilo, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Riau. Perusahaan kelapa sawit itu telah berulang kali tersangkut kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
 
"Peninjauan ke lokasi lahan terbakar PT Adei Plantation adalah bentuk keseriusan kepolisian melakukan penyidikan," kata Direktur Tindak Pindana Tertentu (Tipiter) Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal (Brigjen) Fadil Imran di lokasi penyegelan, melansir Antara, Sabtu, 21 September 2019.
 
Penyegelan dilakukan dengan pemasangan tanda areal lahan dalam penyelidikan Bareskrim Polri sesuai dengan laporan polisi Nomor: LP/A/0822/IX/2019/Bareskrim tanggal 20 September 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fadil menjelaskan pihaknya mendapat laporan pada 7 September 2019 sekitar pukul 17.00 WIB lahan konsesi inti PT Adei Plantation terbakar seluas 4,25 hektare. Sesuai foto citra satelit, tim Polres Pelalawan yang didukung Bareskrim Polri turun melakukan penyelidikan. Ditemukan dugaan adanya rencana penanaman kembali atau replanting di areal tersebut.
 
"Ini bukti kami serius. Bahwa semua modus operandi kebakaran lahan, kebakaran hutan baik milik korporasi maupun milik perorangan, akan kita tindak semuanya. Jadi terhadap lahan PT Adei akan kita pasang garis polisi," tegasnya.
 
Dia melanjutkan hasil penyelidikan sementara material bekas terbakar sudah diambil, untuk diproses di laboratorium. Selain itu polisi juga meminta keterangan dari saksi ahli.
 
"Untuk lahan PT Adei ini kita kenakan Pasal 98 dan 99 undang-undang lingkungan hidup. Dimana barang siapa dengan sengaja dengan lalainya, terganggunya baku mutu, air, tanah, dan udara yang dapat merusak lingkungan, dapat dipidana 10 tahun jika disengaja dan jika lalai 9 tahun," tegasnya.
 
Pekan lalu, Ditjen Gakkum KLHK telah melakukan penyegelan terhadap lahan seluas 4,25 hektare konsesi perusahaan kelapa sawit asal Malaysia PT Adei Plantation. Sejauh ini Gakkum KLHK telah melakukan penyegelan dengan total mencapai 11 perusahaan.
 
"Ini bukti keseriusan kami dalam menindak kasus Karhutla. Jumlah 11 perusahaan ini adalah perkembangan dalam dua minggu terakhir," jelas Direktur Pengawasan dan Penerapan Sanksi Administrasi Gakkum KLHK Sugeng Priyanto.
 
Dia menjelaskan PT Adei Plantation mempunyai total luas lahan 12.860 hektare, penyegelan dilakukan terkait proses penyelidikan kasua Karhutla di konsesi inti perusahaan pada 7 September lalu. Gakkum KLHK menerima laporan peristiwa pada 9 September dan menindaklanjuti dengan tindakan segel lahan yang terbakar seluas 4,25 hektare.
 
"Setelah ini dilakukan pemeriksaan saksi, barang bukti, dan apabila ditemukan dua alat bukti dilanjutkan proses penyidikan serta pelimpahan ke kejaksaan. Sampai saat ini belum ada tersangka dalam kasus PT Adei," jelas Sugeng.
 
Dia menambahkan, selain PT Adei Plantation, sejumlah perusahaan lainnya yang telah disegel seperti PT Arara Abadi, PT RAPP, PT Gelora Sawit Makmur, PT SRL, PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP), dan lainnya. Sebanyak 11 perusahaan yang telah disegel itu masih proses penyelidikan baik itu untuk kasus administrasi, pidana, dan perdatanya.
 
"Kita juga telah melakukan penindakan terhadap banyak perusahaan untuk kasus Karhutla di seluruh Indonesia terutama di Sumatra dan Kalimantan," ungkapnya.
 
Grup Manager PT Adei Plantation Indra Gunawan mengatakan pihaknya sudah berupaya mencegah karhutla di wilayah konsesinya. Apalagi perusahaan masih dalam proses penyelesaian denda administrasi sebesar Rp5 miliar dalam kasus Karhutla 2015 lalu.
 
"Kebakaran terjadi secara tiba-tiba. Api berasal dari tengah lahan lalu kepulan asap termonitor oleh menara pengawas. Kami lalu mengirimkan sebanyak 150 personel tim pemadam dan 10 eskavator. Dalam waktu 5 jam api bisa dipadamkan," jelas Indra.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif