Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Pemkot Surabaya Menolak Pasien Positif Covid-19 Asal Nganjuk

Nasional Virus Korona Covid-19 Jatim 14 Hari
Amaluddin • 03 Juli 2020 17:32
Surabaya: Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Jawa Timur, Heru Tjahjono, menyebut ada kasus saling lempar pasien covid-19 antara Gugus Tugas Covid-19 Surabaya dan Gugus Tugas Covid-19 Nganjuk. Temuan terungkap saat pihaknya menggelar pertemuan dengan Gugus Tugas Covid-19 Surabaya Raya, di Makodam V/ Brawijaya, Surabaya, Kamis malam, 2 Juli 2020.
 
"Harusnya ada kebersamaan antar daerah terkait covid-19. Ini malah lempar-lemparan, kan itu dosa," kata Heru, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat, 3 Juli 2020.
 
Heru menyayangkan adanya kasus saling lempar pasien covid-19 antara Pemkot Surabaya dengan Pemkab Nganjuk. Dia menerangkan, pasien itu dinyatakan positif korona di Surabaya namun KTP-nya asal Nganjuk, sehingga Pemkot Surabaya meminta dikembalikan ke daerah asal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami tekankan bahwa rasa kebersamaan antardaerah dalam penanganan covid-19 ini sangat penting," jelas Heru.
 
Baca:18 Provinsi Minim Penambahan Kasus Covid-19
 
Dia mengingatkan pesan Presiden Joko Widodo terkait pentingnya keterbukaan, dan perasaan yang sama untuk menurunkan angka penularan covid-19. Heru menyebut, inilah waktu yang tepat untuk duduk bersama, menindaklanjuti arahan Presiden Jokowi.
 
"Kalaupun tidak turun, paling tidak harus ada langkah konkret dari hulu sampai hilir," kata Heru.
 
Rapat yang digelar merupakan bagian dari evaluasi setelah tujuh hari kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Jawa Timur, pada Kamis, 25 Juni 2020. Saat itu, Jokowi meminta pihak terkait agar bersama-sama menurunkan angka penyebaran covid-19 di Jatim. Jokowi memberi waktu dua pekan untuk menekan penyebaran covid-19 di Jatim.
 
Pangdam V/ Brawijaya, Mayjend TNI Widodo Iryansyah, mengatakan untuk mewujudkan keinginan Presiden, hal yang perlu dilakukan yakni menekankan penerapan protokol kesehatan. Karena banyak masyarakat belum sadar ancaman covid-19.
 
"Saya sudah mendatangi beberapa rumah, ada yang dalam satu rumah tersebut terdapat lima orang. Tapi, maskernya hanya ada dua. Jadi jika ada yang mau ke luar rumah, masker tersebut dipakai bergantian. Lalu, kami bagikan lima masker," katanya.
 
Dia mencontohkan, saat malam hari di beberapa ruas jalan di Surabaya, banyak pesepeda kemudian berkumpul di taman. Alasan pesepeda, kata dia, cuma suntuk di rumah dan ingin jalan-jalan.
 
"Jika seperti ini terus, bagaimana bisa turun angka covid-19," ujarnya.
 
Sementara itu, Kapolda Jatim, Irjen Mohammad Fadil Imran, mengusulkan masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan ditindak tegas. Penerapan jam malam di Surabaya Raya pun harus kembali dipertimbangkan.
 
"Kalau perlu, jam sembilan malam kita tutup saja jalan yang menjadi tempat berkumpul masyarakat, lalu kita semprot disinfektan. Contohnya, mulai Jalan Raya Darmo sampai ke Tunjungan, jika perlu mulai besok kita start bergerak," ujar Fadil.
 
Fadil menegaskan, pentingnya sanksi tegas bagi pelanggar protokol kesehatan, demi menurunnya kasus covid-19. Dia mencontohkan, aturan yang diterapkan di Kabupaten Banyuwang.
 
"Jika ada tempat yang masih bandel, diberi kartu kuning. Jika tetap bandel, dikasih kartu merah atau tutup selamanya," tukas Fadil.
 

(LDS)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif