Ilustrasi. (Foto: Medcom.id/Mohammad Rizal)
Ilustrasi. (Foto: Medcom.id/Mohammad Rizal)

Kemarau 2019 Disebut Lebih Panjang dan Kering

Nasional kemarau dan kekeringan
Rendy Ferdiansyah • 11 Oktober 2019 15:39
Pangkalpinang: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut musim kemarau tahun ini jauh lebih panjang dan lebih kering dari tahun-tahun sebelumnya.
 
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan curah hujan saat ini di bawah 200 milimeter. Semakin panasnya suhu dan keberadaan awan di atas kepulauan Indonesia yang semakin bersih membuat peluang hujan kecil.
 
"Sebetulnya itu sudah diprediksi, Pak Presiden sudah minta jajaran pusat dan daerah bekerja sama menyiapkan sejak Juli. Secara alamiah musim kemarau tahun ini lebih panjang dan juga lebih kering," kata Dwikorita, Jumat, 11 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menjelaskan kurangnya awan tersebut bukan karena El nino tetapi pengaruh dari Samudra Hindia dan suhu lautan Indonesia yang dingin. Sehingga evaporasi pembentukan awan semakin berkurang.
 
"Lautan kita dingin dan sangat berpengaruh sekali dalam pembentukan awan sehingga curah hujan pun berkurang," ujarnya.
 
Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulanagn Bencana (BNPB) Doni Monardo mengatakan pemerintah kesulitan membuat hujan buatan dikarena keberadaan awan di bawah 70 persen.
 
"Kalau awannya tidak 70 persen berarti tidak bisa membuat hujan buatan . Terutama untuk daerah terdampak krisis air di Jawa," kata Doni.
 
Karena alasan inilah, kata Doni, kepala daerah khususnya di Pulau Jawa bekerja lebih keras guna memenuhi kebutuhan air bersih untuk masyarakat.
 
"Kita semua harus melakukan upaya yang maksimal, menanam pohon jenis tertentu. Setiap daerah berbeda. Seperti pohon sukun cari yang berkualitas agar 4-5 tahun berbuah. Bernilai ekonomi dan bisa simpan air," imbuhnya.
 
Ia mengatakan tanaman sukun mampu menyimpan air lebih banyak. Sedangkan khusus lahan gambut lebih cocok ditanami pohon kopi. Selain bernilai ekonomi, juga ada manfaat secara ekologi.
 
"Dengan begitu kita bisa jaga lahan gambut agar tak mudah terbakar. Kalau sudah tersedia dengan baik tanah akan dalam kondisi basah karena menyimpan air," pungkasnya.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif