Aktivitas Gunung Slamet meningkat. (MI/Akhmad Safuan)
Aktivitas Gunung Slamet meningkat. (MI/Akhmad Safuan)

Aktivitas Kegempaan Gunung Slamet Fluktuatif

Nasional gunung slamet
Antara • 16 Agustus 2019 15:44
Purwokerto: Aktivitas kegempaan Gunung Slamet, Jawa Tengah, masih fluktuatif. Petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet Pusat Mitigasi Bencana Geologi(PVMBG) Sukedi mengungkap kadang gempa embusan tercatat cukup tinggi.
 
"Gempa embusan kadang berkurang, demikian pula dengan amplitudo tremor menerus atau Microtremor," katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jumat, 16 Agustus 2019.
 
Ia mengaku sejak Kamis, 15 Agustus hingga hari ini amplitudo tremor menerus tercatat 0,5-2 milimeter yang dominan 0,5 milimeter. Sedangkan sebelumnya tercatat 0,5-3 milimeter dan dominan 2 milimeter.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menilai hal itu bukan berarti aktivitas Gunung Slamet menurun sejak statusnya ditingkatkan dari aktif normal (Level I) menjadi waspada (Level II) pada hari Jumat, 9 Agustus 2019, pukul 09.00 WIB.
 
"Kegempaan masih fluktuatif karena ketika muncul, naik, lalu turun lagi. Jumlah embusannya juga sama, kadang tinggi, kemudian turun lagi, begitu juga dengan amplitudo tremor, jadi masih fluktuatif meskipun kesannya dua hari ini lebih rendah dari sebelumnya," tegasnya.
 
Gunung Slamet, kata dia, masih berstatus waspada. Sehingga masyarakat dan wisatawan direkomendasikan tidak beraktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah gunung terbesar di Jawa Tengah.
 
Sukedi mengungkap berdasarkan pengamatan yang dilakukan hari ini, pukul 00.00-06.00 WIB, Gunung Slamet terlihat jelas. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 25-50 m di atas puncak kawah.
 
Baca:Aktivitas Gunung Slamet Meningkat
 
Sementara pukul 06.00-12.00 WIB, kata dia, Gunung Slamet tampak jelas dan tertutup kabut 0-I hingga kabut 0-II. Asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tipis dan tinggi 25-50 meter di atas puncak kawah.
 
"Dari sisi kegempaan, pukul 00.00-06.00 WIB tercatat sebanyak 320 kali kejadian embusan dengan amplitudo 2-20 milimeter dan durasi 12-50 detik, sedangkan tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-2 milimeter yang dominan pada 0,5 milimeter," bebernya.
 
Kemudian pukul 06.00-12.00 WIB tercatat sebanyak 247 kali kejadian embusan dengan amplitudo 2-18 milimeter dan durasi 15-50 detik. Sedangkan tremor menerus terekam dengan amplitudo 0,5-2 milimeter yang dominan pada 0,5 milimeter
 
Sebelumnya, Sukedi mengatakan, jika amplitudo tremor menerusnya makin tinggi, kondisinya akan lebih berbahaya. Karena makin besar amplitudo, berarti makin tinggi energi yang dikumpulkan Gunung Slamet.
 
Kendati demikian, dia mengatakan, jika tremor menerusnya meningkat, tidak serta merta status Gunung Slamet akan ditingkatkan. Karena harus didukung dengan parameter lain.
 
"Memang besaran amplitudo tremor menerus itu tidak bisa menjadi standar tetapi berdasarkan pengalaman tahun 2014, 5-10 milimeter itu sudah ada erupsi. Bahkan saat itu, amplitudo tremor menerus saat awal erupsi Gunung Slamet masih berkisar 0,5-10 milimeter," ungkapnya
 
Baca:Warga Diminta Menjauh 2 Km dari Kawah Gunung Slamet
 
Dia mengungkap tipe letusan Gunung Slamet yang berada di antara Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes berupa freatik. Karena tidak mengeluarkan magma, melainkan uap air.
 
"Meskipun tipe letusannya freatik, saat erupsi Gunung Slamet tahun 2014 diakhiri dengan keluarnya lava pijar, jarak luncurannnya mencapai 2,6-2,7 kilometer dari kawah, menyebar, tidak satu arah, karena tipe erupsinya strombolian," jelasnya.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif