Pembangunan hangar Lion Air Group bersama GMF AeroAsia, di Hang Nadim Batam, Rabu, 14 Agustus 2019. (Medcom.id/Anwar Sadat Guna)
Pembangunan hangar Lion Air Group bersama GMF AeroAsia, di Hang Nadim Batam, Rabu, 14 Agustus 2019. (Medcom.id/Anwar Sadat Guna)

Lion Air dan GMF Bangun MRO di Batam

Nasional penerbangan
Anwar Sadat Guna • 15 Agustus 2019 14:11
Batam: Lion Air Group bekerja sama dengan PT GMF AeroAsia Tbk membangun industri maintenance repair and overhaul (MRO) di kawasan Bandara Hang Nadim, Batam. Joint venture ini diwujudkan kedua perusahaan saat meletakkan batu pertama pembangunan MRO, di Hang Nadim Batam, Rabu, 14 Agustus 2019.
 
Menteri Perekonomian Darmin Nasution mengapresiasi pembangunan industri perawatan dan perbaikan pesawat terbang oleh Lion Air Group dan GMF AeroAsia di Batam. Darmin menyambut baik karena industri high technologyini berskala regional.
 
"Rencana ini sudah digagas sejak lima tahun lalu. Saya sampaikan, kalau hanya skala lokal (nasional) enggak usah. Kalau punya nyali, lebih bagus bangun berskala (mencakup negara-negara kawasan) regional," ungkap Darmin, saat menyampaikan sambutannya, di acara Kesepakatan Kerjasama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Hangar Tahap III JV (BAT-GMF), di Hang Nadim Batam, Rabu, 14 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Darmin mengatakan pembangunan MRO akan sangat membantu pengembangan industri aviasi di Tanah Air. Dengan hadirnya MRO di Batam, pesawat komersial di Indonesia tak perlu lagi melakukan perbaikan dan perawatan pesawat di luar negeri.
 
"Pembangunan ini memberikan banyak keuntungan. Kita bisa menghemat (menekan) devisa ke luar negeri, memperkuat industri MRO dalam negeri, dan mampu menyerap ribuan tenaga kerja baru," ujarnya.
 
Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait mengatakan alasan Lion Group berinvestasi membangun hangar karena pasar MRO di Indonesia masih sangat potensial. Prospek ke depan, ada sekitar 700 pesawat domestik yang menjadi target pasar MRO.
 
"Alasan lain mengapa kami membangun MRO di Batam, selain bisa menghemat devisa, kami juga mengantisipasi prospek pertumbuhan armada pesawat di masa mendatang," ujarnya.
 
Selain itu, sambung Edward, Batam dipilih karena sangat dekat dengan Singapura. Sehingga memudahkan dalam aktivitas pengiriman kargo dari Singapura.
 
"Alasan lain yakni Batam memiliki runway (lintasan bandara) yang cukup panjang sekitar 4.000 meter," ujarnya.
 
Keistimewaan lainnya, lanjut Edward, penggunaaan lahan di Batam bisa disewa selama 50 tahun, yang tadinya hanya 30 tahun dan bisa diperpanjang lagi. "Ini juga yang menarik kami untuk investasi di Batam. Kami berterima kasih kepada BP Batam," ujarnya.
 
Direktur GMF AeroAsia Tazar Marta Kurniawan menambahkan penyatuan pembangunan MRO sangat efektif dalam menekan biaya, terutama devisa yang selama ini dikeluarkan GMF AeroAsia. Dengan hadirnya MRO, ke depan segala kegiatan perawatan dan perbaikan pesawat bisa dilakukan di dalam negeri.
 
"Ini investasi pertama kami membangun hangar di Batam. Ke depan kami akan membangun di Kualanamu, Medan, dan di Bintan, Provinsi Kepri," ujarnya.
 
Tazar menilai Kepri sangat strategis karena dekat dengan negara-negara di kawasan regional. "Ini merupakan pengembangan industri MRO yang dilakukan GMF seiring perkembangan industri aviasi kita dalam negeri," ujarnya.
 
Founder Lion Air Group Rusdi Kirana menambahkan investasi pembangunan seluruh MRO Lion Air Group, termasuk Batam mencapai Rp10 triliun. Lion Air Group telah membangun tahap satu dan dua di Hang Nadim Batam. Kedua MRO itu telah beroperasi.
 
"Kita mengapresiasi BP Batam dapat memberikan izin sewa lahan di area bandara ini hingga 50 tahun. Ini sangat memudahkan kami membangun MRO," ungkapnya.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif