Pembangunan jembatan Sungai Teleng, penghubung tiga desa di Kecamatan Kebonagung, Demak dicoret dari daftar proyek karena diusulkan kader NasDem. (Foto: MI/Akhmad Safuan)
Pembangunan jembatan Sungai Teleng, penghubung tiga desa di Kecamatan Kebonagung, Demak dicoret dari daftar proyek karena diusulkan kader NasDem. (Foto: MI/Akhmad Safuan)

NasDem Demak Sudah Diganjal Sejak Awal

Nasional Partai NasDem
Akhmad Safuan • 20 November 2019 12:39
Demak: Pengganjalan terhadap Partai NasDem di DPRD Demak, Jawa Tengah, tidak hanya saat penyusunan alat kelengkapan dewan (AKD). Politikus NasDem, Martono, yang juga mantan Kepala Desa Mijen, mengungkapkan, penjegalan terhadap NasDem ia rasakan sejak maju sebagai calon anggota legislatif 2019.
 
Persoalan bermula ketika Martono mengajukan rehabilitasi terhadap sebuah jembatan sepanjang 10 meter dengan lebar tiga meter yang melintasi Sungai Teleng. Jembatan tersebut menghubungkan Desa Werdoyo, Desa Mangunan Lor, dan Desa Mijen, Kecamatan Kebon Agung, Kabupaten Demak.
 
"Jembatan ini sudah rusak dan cukup membahayakan untuk dilintasi karena rapuh dan miring, tapi sudah tiga tahun pengusulan pembangunan kandas," ungkap Martono, Rabu, 20 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Martono, usulan terakhir perbaikan ia lakukan jelang Pemilu 2019. Usulan itu direspons baik oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Demak dengan anggaran Rp1 miliar.
 
Kecurigaan muncul ketika pengajuan pembangunan jembatan Sungai Teleng dicoret dari daftar proyek prioritas yang sudah disetujui dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang). Ia menduga usulan ditolak lantaran pengusul merupakan kader Partai NasDem.
 
"Saya kaget ketika sudah duduk di kursi dewan, pembangunan jembatan itu kok tidak ada dalam daftar proyek tahun ini," kata Martono, yang memperoleh 3.658 suara dalam Pileg 2019.
 
Mengetahui rehabilitasi jembatan Sungai Teleng tidak masuk dalam daftar proyek Pemda, ia pun berinisiatif menghubungi Dinas PU Demak untuk mempertanyakannya.
 
"Saya tambah kaget karena menurut PU sudah diajukan dan dicoret oleh DPRD Demak saat saya masih berjuang untuk mendulang suara pileg melalui NasDem," tambahnya.
 
Setelah kini duduk di kursi DPRD Demak, ujar Martono, masalah jembatan itu akan kembali diajukan. Karena selain dapat memperpendek jarak tempuh hingga beberapa kilometer, usulan itu juga merupakan aspirasi warga tiga desa yakni Mijen, Werdoyo, dan Mangunan Lor.
 
"Sudah menjadi tugas saya sekarang untuk menyampaikan aspirasi dan berjuang untuk rakyat Demak. Saya akan kawal dan ini masih memungkinkan karena bisa diajukan kembali," ungkap Martono.
 
Pengganjalan terhadap Partai NasDem agar tidak memperoleh suara dalam Pileg di Demak juga diungkapkan oleh Ketua DPD Partai NasDem Demak Budi Achmadi. Lawan NasDem menghendaki agar partai tanpa mahar ini tidak memperoleh kursi di DPRD Demak pada 2019-2024.
 
"Sejak awal memasuki pelaksanaan pemilu kita diganjal agar tidak memperoleh kursi di DPRD Demak, karena mereka tahu caleg-caleg NasDem kritis menyampaikan aspirasi rakyat dan juga tidak bisa disuap," kata Budi.
 
Di tingkat pemilih, lanjut Budi, pada kantong suara potensial Partai NasDem juga oleh pihak lain digembosi dengan berbagai cara. Mulai dari omongan hingga gelontoran modal. Namun para caleg terus telaten meyakinkan pemilihnya untuk terap teguh hati pilih partai besutan Surya Paloh.
 
Setelah pencoblosan dan penghitungan suara, ujar Budi, orang-orang yang menginginkan Partai NasDem tidak dapat kursi kaget, karena NasDem mampu mengantarkan enam calegnya ke kursi dewan.
 
"Saya tahu persis siapa mereka dan dari partai mana, tapi tidak jauh beda dengan yang ngerjain kita di AKD sekarang," tambahnya.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif