Suasana gerbang depan sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu 2 Juni 2021.
Suasana gerbang depan sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Kota Batu, Jawa Timur, Rabu 2 Juni 2021.

Dinas Perlindungan Anak Jatim Siap Kawal Kasus Dugaan Kekerasan Seksual di Sekolah SPI

Nasional Kekerasan di Sekolah kekerasan seksual
Daviq Umar Al Faruq • 04 Juni 2021 13:41
Batu: Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa pihaknya siap mengawal dugaan kekerasan seksual yang dilakukan JE, pemilik sekaligus pengelola sekolah Selamat Pagi Indonesia (SPI) di Kota Batu, Jawa Timur, terhadap puluhan anak didiknya. Dugaan tersebut sebelumnya dilaporkan oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) ke Polda Jatim, Sabtu 29 Mei 2021.
 
Kepala DP3AK Provinsi Jawa Timur, Andriyanto, mengatakan, sejauh ini ada 21 orang yang melaporkan dugaan kasus kekerasan seksual tersebut. Pihaknya pun ikut mendampingi para pelapor tersebut melalui Pusat Pelayanan Terpadu yang di Rumah Sakit Bhayangkara, Surabaya.
 
"Itu sudah kita dampingi. Akan tetapi, kebetulan pelapornya itu adalah alumni, bukan siswa. Jadi sebenarnya sudah dewasa sebenarnya. Tapi posisi dinas kami itu tetap ikut mendampingi," katanya, Jumat 4 Juni 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Andri, sapaan akrabnya, menjelaskan, 21 orang pelapor tersebut merupakan alumni sekolah SPI dan sudah tidak masuk dalam kategori anak. Sedangkan, berdasarkan UU 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
 
"Namun kejadian itu (kekerasan seksual) pada saat korban adalah anak, masih ketika dia siswa. Kejadian sudah lama," ungkapnya.
 
Baca: Profil SMA Selamat Pagi Indonesia, Sekolah yang Diduga Melakukan Kekerasan Seksual
 
Andri pun mengaku tidak tahu mengapa para alumni tersebut baru berani melapor terkait dugaan kekerasan seksual kepada pihak berwajib baru-baru ini. Bisa jadi, para alumni baru memiliki keberanian lantaran didukung oleh Komnas PA.
 
"Kami tidak tahu, yang jelas bahwa mungkin barangkali ada sosok Arist Sirait, bisa jadi ada yang berani melaporkan itu. Ini meletusnya ya kemarin itu," imbuhnya.
 
Andri pun enggan berkomentar banyak terkait adanya dugaan apabila para alumni tersebut mendapat ancaman sehingga tidak berani melapor. Sebab, hal itu masih diselidiki polisi hingga saat ini.
 
"Belum tahu (ada ancaman), kita hormati proses hukum. Kalau itu kesimpulan yang bisa disampaikan kepolisian," tegasnya.
 
Sebelumnya, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mendatangi kantor Polda Jatim, Sabtu, 29 Mei 2021. Tujuannya untuk melaporkan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan JE, pemilik sekaligus pengelola sekolah swasta di Kota Batu, Jatim, terhadap belasan anak didiknya.
 
"Ada sekitar 15 korban, ini menyedihkan karena ini adalah sekolah yang dibanggakan oleh Kota Batu dan Jatim tapi ternyata menyimpan kejahatan yang luar biasa hingga bisa mencederai dan menghambat anak-anak untuk tumbuh dan berkembang dengan baik," ujar Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, usai melaporkan kasus tersebut ke Polda Jatim.
 
Selain dugaan tindak pidana kekerasan seksual, Komnas PA diketahui juga melaporkan dugaan tindak pidana kekerasan fisik serta dugaan tindak pidana eksploitasi ekonomi.

 
(ALB)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif