Ilustrasi/Medcom.id.
Ilustrasi/Medcom.id.

Krisis Air Mulai Dialami Warga

Nasional kemarau dan kekeringan
Liliek Dharmawan • 12 Juni 2019 15:15
Banyumas: Musim kemarau di Banyumas, Jawa Tengah mulai berdampak di sejumlah wilayah. Setidaknya ada enam desa yang tersebar di enam kecamatan yang mengalami krisis air bersih.
 
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas hingga Selasa, 11 Juni 2019, masih terus menyuplai kebutuhan air bersih untuk keenam desa tersebut. Kepala Pelaksana Harian BPBD Banyumas Ariono Poerwanto mengatakan keenam wilayah tersebut yakni di Desa Nusadadi, Kecamatan Sumpiuh, Desa Karanganyar, Kecamatan Patikraja dan Desa Banjarparakan, Kecamatan Rawalo.
 
"Ketiga desa lainnya adalah Desa Kediri, Kecamatan Karanglewas, Desa Srowot, Kecamatan Kalibagor, dan Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang," jelas Ariono, kemarin.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Ariono, pihaknya telah memasok kebutuhan air bersih untuk warga yang berada di enam desa tersebut. "Hingga kini, sudah 13 tangki air bersih dengan kapasitas masing-masing tangki 5 ribu liter untuk menyup-lai ke wilayah kekeringan," ujarnya.
 
Pengamat cuaca Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Rendi Krisnawan menjelaskan musim kemarau pada akhir Mei telah terjadi di sebagian Cilacap dan Kebumen. Adapun pada awal Juni, daerah yang memasuki kemarau ialah sebagian Cilacap, sebagian besar Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen.
 
Dampak kemarau juga sudah dirasakan warga Kampung Neglasari, Desa Cijulang, Kabupaten Tasikmalaya yang dalam beberapa hari ini kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus menempuh jarak 3 kilometer menuju sumber mata air dengan menaiki tebing.
 
Dari Bangka Belitung, BPBD setempat menyatakan telah menyiagakan personel dan armada dan siap mendistribusikan air kepada warga yang terdampak kekeringan saat ini. Kepala BPBD Provinsi Babel. Mikron Antariksa mengatakan upaya yang dilakukan itu sama seperti tahun sebelumnya.
 
Dari pemetaan, untuk di Pangkalpinang itu ada dua kecamatan yang selalu mengalami kekeringan di musim kemarau yakni Bukit Intan dan Girimaya. Namun, diakui kendati masuk musim kemarau tahun ini, curah hujan masih terjadi di Babel.
 
Kekeringan ekstrem
 
Stasiun Klimatologi Kelas II Lasiana Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), kemarin juga melaporkan ada empat wilayah yang mengalami hari tanpa hujan lebih dari 60 hari. Keempat wilayah itu yakni Wairiang di Lembata, Oepoi di Kota Kupang, Sulamu di Kabupaten Kupang dan Umarese di Belu dinyatakan mengalami kekeringan ekstrem.
 
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Lasiana Kupang Apolinaris Geru mengatakan hari tanpa hujan ekstrem tersebut sesuai monitoring selama Dasarian I Juni 2019. Adapun hari tanpa hujan sangat panjang berlangsung 31-60 hari terjadi di sebagian besar wilayah NTT. Adapun hari tanpa hujan kategori rendah antara 0-50 milimeter (mm).
 
"Kecuali di sebagian kecil Kabupaten Ende dan sebagian Kabupaten Malaka curah hujan menengah antara 51-150 mm, sedangkan di sebagian kecil Kabupaten Timor Tengah Selatan mengalami curah hujan tinggi antara 151-300 mm," ujarnya.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif