NEWSTICKER
Sidang putusan di Pengadilan Negeri Kepanjen, Malang, Kamis, 23 Januari 2020. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq
Sidang putusan di Pengadilan Negeri Kepanjen, Malang, Kamis, 23 Januari 2020. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Pelajar yang Bunuh Begal Divonis Satu Tahun Pembinaan

Nasional pembunuhan
Daviq Umar Al Faruq • 23 Januari 2020 13:58
Malang: Pengadilan Negeri Kepanjen Kabupaten Malang, menjatuhkan vonis kepada terdakwa ZA, 17, dengan hukuman pembinaan selama satu tahun di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Darul Aitam di Wajak, Kabupaten Malang. Pelajar di salah satu SMA di Kabupaten Malang itu divonis dengan Pasal 351 KUHP tentang penganiayaan.
 
"Kami menjatuhkan pidana kepada anak dengan pidana pembinaan dalam LKSA selama satu tahun. Sang anak diberikan pendampingan dan pembimbingan," kata hakim tunggal, Nuny Defiary, di Pengadilan Negeri Kepanjen, Kamis, 23 Januari 2020.
 
Nuny mengatakan jika terdakwa ZA terbukti secara sah melakukan tindak pidana penganiayaan hingga menyebabkan kematian terhadap korban, Misnan, 35.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara Kuasa Hukum ZA, Bhakti Riza, mengatakan pihaknya masih akan mempertimbangkan banding vonis bersama keluarga ZA. Dia mengaku masih ada waktu selama tujuh hari untuk mempertimbangkan putusan hakim tunggal tersebut.
 
"Merespon keputusan hakim, Kami dengan tim dan bapak ZA akan berpikir terkait ini. Yang jelas kami sangat menghormati prosedur hukum PN Kepanjen. Tapi ada banyak hal yang menjadi bahan pertimbangan dari kami," kata Bhakti usai sidang.
 
Bakti menjelaskan hakim tunggal memutuskan ZA bersalah sesuai dengan Pasal 351 KUHP tanpa mempertimbangkan Pasal 49 KUHP. Sebab saat itu ZA melakukan pembunuhan sebagai bentuk upaya pembelaan diri.
 
Sebelumnya kasus yang dialami ZA, bermula saat penemuan sosok mayat di kebun tebu di Desa Gondanglegi, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pada 9 September 2019 lalu. Korban tewas yang ditemukan tersebut adalah Misnan, 35.
 
Setelah dilakukan penyelidikan, polisi kemudian menangkap ZA sebagai terduga pelaku pembunuhan Misnan tersebut. Namun berdasarkan pengakuan ZA, dia melakukan pembunuhan karena Misnan dan rekannya, Ali Wava, tengah melakukan upaya pemerasan.
 
Saat itu Misnan dan Ali Wafa diakui ZA mencoba merampas sepeda motor dan telepon seluler milik ZA yang saat itu bersama kekasihnya, VN, di lokasi kejadian. Selain itu kedua pelaku ini juga disebutkan ZA mengancam akan memperkosa VN.
 
Oleh karena itu ZA melakukan perlawanan dan menusukkan pisau yang diambil dari jok motornya ke salah satu begal, Misnan. Melihat hal itu, rekan Misnan, yakni Ali Wava langsung lari dari lokasi. Misnan pun sempat lari namun akhirnya tewas di kebun tebu.
 
Kasus ini sempat viral dan menjadi perbincangan di media sosial. Pasalnya ZA dikenai dengan pasal berlapis yakni pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 338 KUHP, Pasal 351 (3) KUHP dan Pasal UU darurat pasal 2 (1) terkait kepemilikan senjata tajam. Padahal yang dilakukan ZA merupakan upaya pembelaan diri.
 
Saat di pengadilan kasus yang menimpa ZA ini diproses dengan menggunakan Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) yang mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012. Sehingga saat sidang putusan, ZA divonis dengan hukuman pembinaan selama satu tahun
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif