Polres Metro Tangerang Kota melakukan konferensi pers penangkapan dua mafia tanah dengan luas tanah 45 hektare di Pinang, Kota Tangerang. Medcom.id/ Hendrik Simorangkir
Polres Metro Tangerang Kota melakukan konferensi pers penangkapan dua mafia tanah dengan luas tanah 45 hektare di Pinang, Kota Tangerang. Medcom.id/ Hendrik Simorangkir

Sengketa di Pinang Tangerang Berujung Penangkapan 2 Mafia Tanah

Nasional kasus tanah sengketa tanah sengketa lahan permata hijau
Hendrik Simorangkir • 13 April 2021 18:40
Tangerang: DM, 48, dan MCP, 61, mafia tanah dengan luas 45 hektare di wilayah Pinang, Kota Tangerang, ditangkap Polres Metro Tangerang Kota.
 
DM dan MCP memiliki peran masing-masing dalam kasus tanah tersebut. Namun keduanya saling menggugat untuk menguasai tanah tersebut.
 
"Kasus yang terjadi di wilayah hukum Kota Tangerang di Alam Sutera, cukup luas 45 hektare. Kejadian sudah lama, bahkan sudah pernah dilakukan eksekusi saat itu," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, di Tangerang, Selasa, 13 April 2021.  

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: 2 Kelompok Massa di Tangerang Bentrok
 
Yusri menjelaskan sebelumnya DM menggugat perdata MCP. Gugatan tersebut merupakan modus keduanya untuk mendapatkan keuntungan.
 
"Sesama mereka, satu jaringan mereka saling gugat untuk bisa menguasai tanah tersebut untuk melawan perusahan atau warga masyarakat di situ," jelas Yusri.
 
Kedua tersangka pada April 2020 melakukan gugatan perdata yang menghasilkan perdamaian pada Mei 2020. Setelah itu kedua tersangka pun langsung melakukan eksekusi di tempat lokasi yang sudah diatur untuk memuluskan rencana keduanya tanpa adanya perundingan.
 
"Ini terjadi pada Juli 2020, kedua mafia tanah ini menyewa organisasi massa untuk melakukan perlawanan. Tapi ada perlawanan dari warga dan perusahaan pada saat itu sehingga batal eksekusi. Karena sempat terjadi bentrok pada saat itu," jelasnya.
 
Yusri menambahkan permainan mafia tanah ini membuat warga dan perusahaan yang berada di tempat yang menjadi sengketa dari kedua mafia membuat laporan ke Kepolisian. Pada 10 Februari 2021 warga dan perusahaan membuat laporan.
 
"Ini lah yang kemudian dilakukan lidik dan sidik tim Polres Metro Tangerang Kota dan berhasil menangkap dua orang tersangka tersebut. Keduanya merupakan otak dari sengketa tanah ini," jelasnya.
 
Yusri menambahkan pihaknya berhasil menyita barang bukti berupa surat-surat kepemilikan tanah palsu. Termasuk surat tanah yang menjadi dasar tersangka DM untuk menggugat tersangka MCP di perdata yang tidak tercatat untuk membuat SHGB (sertifikat hak guna bangunan) dengan sembilan objek sertifikat.
 
"Setelah dicek penyidik, ternyata semua suratnya palsu. Ini akal-akalan mereka sebagai mafia tanah, bagaimana caranya mereka menguasai semua dengan membuat surat yang palsu untuk memenangkan gugatan perdata. Ini permainan mafia mereka semuanya," ungkapnya.
 
Saat ini polisi masih mengejar satu tersangka lain yang berperan sebagai kuasa hukum dari kedua mafia tersebut. Kedua tersangka DM dan MCP dijerat dengan Pasal 263 KUHP dan 266 KUHP dengan ancaman penjara 7 tahun.
 
"Satu orang jadi target penangkapan kita, inisial AM yang merupakan pengacara mereka yang ikut serta menjadi campur tangan kedua tersangka," ujar Yusri.
 
Sebelumny, dua kubu massa terlibat bentrok di Jalan Rasuna Said, Kelurahan Kunciran, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Jumat, 7 Agustus 2020. Bentrok diduga atas perebutan lahan seluas 45 hektare yang berada persis di samping Kantor Kecamatan Pinang.
 
 
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif