Ilustrasi Early Warning System (EWS) di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Foto: ANT/Mohammad Ayudha
Ilustrasi Early Warning System (EWS) di Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Foto: ANT/Mohammad Ayudha

20 Unit Pendeteksi Longsor di Gunungkidul Rusak

Nasional bencana longsor
Agus Utantoro • 14 November 2019 16:24
Gunungkidul: Sebanyak 20 unit Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) rusak. EWS cukup vital karena sebagai pertanda awal datangnya bencana longsor.
 
"Kerusakan terutama disebabkan oleh komponen catu daya atau accu dan juga tiang penyangga sirine yang ambruk," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki, Kamis, 14 November 2019.
 
Dia menjelaskan keberadaan EWS cukup vital di daerah rawan longsor sebagai pertanda datangnya bencana. Masyarakat yang berada di lokasi bencana bisa segera menyelamatkan diri sebelum tertimpa tanah longsor.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Petugas terus melakukan pemantauan berbagai wilayah utamanya di kawasan rawan longsor," jelasnya.
 
Adapun desa yang telah dipasang EWS antara lain Desa Giritirto, Giripurwo, Girijati, Giricahyo, di Kecamatan Purwosari. Desa Tancep, Sambirejo, Kampung Kecamatan Ngawen.
 
Desa Umbulrejo Kecamatan Ponjong. Desa Sampang, Watugajah dan Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari. Desa Patuk, Terbah dan Putat Kecamatan Patuk. Desa Candirejo dan Semin Kecamatan Semin, serta Desa Kedungpoh Kecamatan Nglipar.
 
"Kami telah berkoordinasi dengan BPBD DIY dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar bisa memberikan solusi terhadap kerusakan EWS ini," ujarnya.
 
Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Kabupaten Sleman, Makwan, mengingatkan masyarakat untuk siaga menghadapi bencana hidrometeorologi. Pasalnya seluruh wilayah di Kabupaten Sleman rawan terkena bencana angin rribut hingga puting beliung.
 
BPBD Kabupaten Sleman sudah berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk memangkas pohon di pinggir jalan agar tidak membahayakan pengguna jalan saat terjadi angin kencang. Hanya saja masih banyak baliho yang dimungkinkan terkena dampak angin kencang.
 
"Kami juga menyiapkan bronjong kawat untuk mengantisipasi talud yang jebol atau longsor. Ada 400 bronjong," katanya.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif