Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT), Samsul Widodo. Istimewa
Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT), Samsul Widodo. Istimewa

Bangun Daerah Tertinggal dengan Smart Farming

Nasional pertanian
Medcom • 21 Oktober 2019 13:15
Jakarta: Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menerapkan teknologi pada bidang pertanian di daerah tertinggal. Caranya yaitu dengan menerapkan konsep smart farming.
 
Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT), Samsul Widodo mengatakan smart farming bisa diartikan sebagai precision agriculture atau bertani yang tepat. Konsep itu dapat mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan dari setiap tanaman.
 
“Dari pengidentifikasian tersebut, petani jadi lebih paham tindakan apa yang harus dilakukan pada setiap tanamannya. Tanaman mana yang membutuhkan air, tanaman mana yang harus diberikan pestisida, dan tanaman mana yang harus dipupuk,” kata Samsul, Senin, 21 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Samsul menambahkan penerapan teknologi di bidang pertanian dapat meningkatkan potensi pertanian karena akan turut menarik perhatian kaum muda untuk ikut serta menggeluti pertanian di daerahnya.
 
Implementasi smart farming di daerah tertinggal terus digenjot oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Ditjen PDT). Pada tahun 2019, Ditjen PDT telah menetapkan 5 kabupaten daerah tertinggal sebagai lokasi pilot project impelemntasi smart farming, yaitu Kabupaten Situbondo, Dompu, Sumba Timur, dan Pasaman Barat.
 
“Pemilihan pilot project tergantung dari komitmen pemerintah kabupaten tersebut dan jenis tanamannya disesuaikan dengan potensi masing-masing daerah,” kata Rudi Direktur Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Dwi Rudi Hartoyo.
 
Menurut Rudi, Pada Rabu 16 Oktober lalu telah dilakukan launching smart farming di Kabupaten Pasaman Barat melalui Gerakan Menyongsong Pertanian 4.0 dan Implementasi Pertanian Presisi.
Kegiatan tersebut diawali dengan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) dengan PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) yang sudah mulai bekerja sama untuk menerapkan Pertanian Presisi 4.0 di daerah tertinggal sejak 27 Maret 2019.
 
Selain itu, Implementasi Pertanian Presisi 4.0 di Kabupaten Pasaman Barat juga turut didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Asian Development Bank (ADB), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Bank Negara Indonesia yang menyediakan fasilitas peminjaman modal melalui program Kredit Usaha Tani dengan sistem bayar pada saat panen.
 
Metode smart farming bukan sekadar tentang penerapan teknologi. Kunci utama smart farming adalah data terukur berdasarkan analisa sensor yang telah dipasang di areal penanaman.
 
Sensor itu akan memberikan informasi mengenai berbagai hal yang terkait dengan tanaman. Misal, apakah perlu menambah pupuk, apakah perlu menambah air, suhu di sekitar lokasi tanam hingga rekomendasi jadwal panen. Hal itu membuat hasil panen yang diperoleh petani menjadi lebih baik, efektif dan efisen.
 
Tidak hanya itu, konsep smart farming juga bisa dimanfaatkan untuk penanganan penjualan hasil pertanian. Dengan begitu, petani tidak perlu khawatir hasil produksi tidak terbeli. Mereka juga dapat menjual sendiri produk dan mendapat penghasilan yang lebih tinggi.
 
Teknologi tersebut juga dapat mengidentifikasi, menganalisa, serta mengelola informasi keragaman spasial dan temporal di dalam lahan untuk mendapatkan keuntungan optimum, berkelanjutan, dan menjaga lingkungan.
 
Oleh sebab itu, penggunaan teknologi smart farming yang disesuaikan dengan zamannya, diharapkan mampu mengatasi masalah perawatan tanaman yang selama ini tidak bisa diselesaikan secara tradisional.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif