Ilustrasi limbah zat radioaktif. ANT/Muhammad Iqbal
Ilustrasi limbah zat radioaktif. ANT/Muhammad Iqbal

Batan Kembangkan Sistem Pemantauan Zat Radioaktif Terintegrasi

Nasional nuklir
Farhan Dwitama • 03 Agustus 2020 11:42
Tangerang: Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengembangkan sistem pemantauan zat radioaktif terintegrasi. Hal itu dilakukan untuk untuk memastikan zat radioaktif di Kawasan Nuklir Serpong, Puspiptek, Tangerang Selatan, telah dipantau ketat.
 
"Kejadian ditemukannya paparan radiasi lingkungan di Perumahan Batan Indah pada awal 2020, di atas ambang batas telah menjadikan keprihatinan dan kekhawatiran banyak pihak. Apalagi setelah dilakukan pencarian sumber, teridentifikasi adanya zat radioaktif sebagai pemicu paparan di atas ambang tersebut," jelas Kepala Pusat Pendayagunaan Informatika dan Kawasan Strategis Nuklir (PPIKSN), Roziq Himawan, Senin, 3 Agustus 2020.
 
Dia menerangkan, dengan sistem pemantauan baru maka lalu lintas zat radioaktif yang keluar masuk kawasan Nuklir Serpong bisa terpantau. Pemantauan dilakukan secara integrasi dengan keamanan secara digital.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sistem pemantauan zat radioaktif di kawasan nuklir Serpong sudah ada, baik perangkat keras maupun perangkat lunak. Namun sistem ini bekerja secara terpisah dan belum didukung oleh teknologi informasi yang andal," terangnya.
 
Baca:Pembersihan Radioaktif di Batan Indah Terkendala Korona
 
Dia melanjutkan, pada sistem pemantau zat radioaktif yang baru akan dilakukan peningkatan sistem pemantauan. Sehingga celah yang memungkinkan zat radioaktif tidak terpantau bisa ditutup.
 
"Peningkatan sistem ini dilakukan dengan mengintegrasikan sistem pemantauan, pengelolaan limbah radioaktif, dan pengamanan yang berbasis digital. Pengembangan sistem pemantauan zat radioaktif ini ditargetkan rampung pada 2022 mendatang," tegasnya.
 
Dia menuturkan, sistem saat ini dalam tahap pengembangan. Pihaknya akan melakukan tiga hal yakni, pembenahan standar operasional prosedur, pengembangan sistem informasi untuk memantau portal monitor radiasi, dan pemasangan dua unit portal monitor radiasi.
 
"Pada 2021 akan dilakukan integrasi sistem pemantauan dengan sistem pengelolaan limbah radioaktif dan pemasangan satu unit portal monitor radiasi. Tahun ketiga, 2022 akan dilakukan pengintegrasian sistem pemantauan dengan Sistem Pengamanan Batan yang ada," jelasnya.
 
Dia mengaku, ada sejumlah tantangan dalam penyenyelsaian portal monitor radiasi, yang merupakan hasil rancang bangun Batan melalui Pusat Rekayasa Fasilitas Nuklir (PRFN). Pasalnya, pandemi covid-19 membuat proses pengadaan terkendala.
 
"Dari segi pengembangan aplikasi sistem informasi dan pengintegrasian relatif dapat diatasi dengan baik," terangnya.
 
Dia menjelaskan, dengan diintegrasikannya sistem pemantauan zat radioaktif dengan sistem lainnya, maka dapat diketahui kapan zat radioaktif keluar/masuk ke kawasan. Kemudian, dengan penerapan sistem informasi digital, maka basis data zat radioaktif di kawasan dapat terdokumentasi dengan baik.
 
"Masyarakat di sekitar kawasan nuklir Serpong tentu akan merasa lebih aman dan tenang, sehingga terbebas dari kekhawatiran lepasnya zat radioaktif," jelasnya.

 
(LDS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif