Rektor UGM Panut Mulyana disamping foto dr Sardjito. (Foto: Dok./Istimewa)
Rektor UGM Panut Mulyana disamping foto dr Sardjito. (Foto: Dok./Istimewa)

dr Sardjito Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

Nasional Pahlawan Nasional
Patricia Vicka • 08 November 2019 14:26
Sleman: Rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) dr Sardjito dianugerahi gelar pahlawan nasional, Jumat, 8 November 2019. Rektor UGM Panut Mulyono mengaku bangga dan bersyukur atas penghargaan tersebut.
 
Menurut Panut dr Sardjito adalah ilmuwan pejuang dan pejuang ilmuwan. Selama hidupnya dr Sardjito mendedikasikan diri membantu orang sakit yang tidak mampu, kendati tak mendapatkan bayaran.
 
"Beliau salah satu penemu beberapa jenis vaksin, obat dan biskuit kesehatan untuk tentara," ujarnya, di Yogyakarta, Jumat, 8 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, kata Panut, dr Sardjito merupakan sosok peletak Pancasila sebagai dasar perguruan tinggi di Indonesia. Ia berharap agar seluruh mahasiswa, alumni UGM, dan para dokter meneladani semangat pengabdian dr Sardjito.
 
"Semoga kita dapat meneladani semangat dan ketulusan almarhum dalam berjuang bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” kata dia.
 
Penganugerahan gelar pahlawan terhadap dr Sardjito bukan hal mudah. Proses tersebut bahkan telah ditempuh selama sembilan tahun.
 
Salah satu anggota tim pengusul, dr Sutaryo, mengatakan, proses pengajuan Sardjito sebagai pahlawan nasional dimulai pada 2011. Setahun kemudian tim mengirimkan surat pengusul calon pahlawan dan mulai mengumpulkan karya dan dokumentasi perjuangan dr Sardjito semasa hidup.
 
"Lalu diadakan seminar dan diskusi untuk memperkenalkan beliau sebagai calon pahlawan. Terakhir, presiden mengirimkan surat pernyataan Sardjito sebagai calon pahlawan," jelas dia.
 
Menurut Sutaryo, Sardjito pantas diberi gelar pahlawan atas kepeduliannta pada kesehatan masyarakat Indonesia. Sardjito juga aktif sebagai pendidik para dokter dan tenaga kesehatan serta ilmuan di bidang kesehatan.
 
"Sardjito aktif bidang pendidikan seperti di Budi Utomo. Aktif di sosial, budaya, perdamaian dan seni rupa,” ungkapnya.
 
Sardjito lahir di Magetan 13 Agustus 1889. Ia merupakan lulusan terbaik sekolah STOVIA (School Tot Opleiding Van Inlandsche Astsen) 1915. Selepas lulus, Sardjito bekerja sebagai dokter di RS Jakarta kemudian pindah ke Institute Bandung.
 
Perjuangannya untuk Indonesia dimulai ketika revolusi fisik. Sardjito kala itu memindahkan vaksin cacar dari Institute Pasteur di Bandung ke Klaten. Vaksin itu akan digunakan untuk mengobati para tentara Indonesia. Uniknya Sardjito memindahkan vaksin menggunakan Kerbau.
 
Vaksin disuntikkan ke tubuh Kerbau. Hal ini untuk menghindari pemeriksaan penjajah. Tiba di Klaten, ia mengambil vaksin di bagian Limpa kerbau dan kemudian mengembangkannya sebagai vaksin penyembuh.
 
Selama masa perjuangan, Sardjito menciptakan makanan ransum bernama biskuit Sardjito. Biskuit ini didistribusikan sebagai makanan para tentara.
 
Sebagai peneliti, Sardjitojuga telah menciptakan beberapa vaksin. Di antaranya, vaksin antipenyakit infeksi untuk typus, kolera, disentri, staflokoken, dan streptokoken. Ia juga menciptakan obat penyakit batu ginjal (calcusol), dan obat penurun kolestrol (caltero).
 
Dari sisi akademik, Sardjito merupakan perintis serta rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) 1950-1961. Kemudian ia mendirikan dan menjabat sebagai rektor Universitas Islam Indonesia (UII) pertama sejak 1961-1970. Atas jasa-jasanya nama Sardjito disematkan pada sebuah rumah sakit pemerintah di daerah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif