ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Perempuan Korban Pelecehan di Bogor Diminta Melapor ke Polisi

Nasional pelecehan seksual
Medcom • 06 Juli 2020 23:11
Jakarta: Ketua Bidang Pemilih Pemula dan Milenial DPP Partai NasDem, Lathifa Al Anshori, mendorong korban pelemparan sperma berinisial R, di Gunungputri, Bogor, Jawa Barat, melapor ke polisi.
 
Gadis berusia 20 tahun tersebut mengaku wajahnya disiram cairan berlendir dan berbau yang diduga sperma oleh seorang pria tak dikenal pada Minggu malam, 5 Juli 2020 saat mengendarai sepeda motor bersama seorang temannya.
 
"Sebagai perempuan, kita harus selalu waspada di jalan. Kalau di India ada teror penyiraman air keras. Para pelakunya tidak jera karena bertahun-tahun tidak ada peraturan tegas terhadap pelaku penyiraman air keras di sana, meskipun korbannya telah menanggung kerusakan badan akibat perbuatan pelaku," kata Lathifa, Senin, 6 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: WNI Bebas dari Hukuman Mati Tiba di Indonesia
 
Lathifa mengatakan saat kejadian kondisi jalanan sedang sepi. R dan temannya mengaku langsung berteriak usai disiram, sambil berusaha kabur dengan menambah kecepatan sepeda motornya.
 
Hingga kini kepolisian setempat mengaku belum dapat melakukan tindakan terhadap pelaku karena belum menerima laporan dari R selaku korban.
 
Sebagai pemerhati isu perempuan, Lathifa ingin adanya tindakan proaktif dari kepolisian dan pihak berwajib dalam menangani kasus pelecehan seksual seperti ini meski belum ada laporan dari korban.
 
Menurutnya hal ini agar perbuatan yang bersifat melecehkan perempuan tidak dianggap sebagai hal biasa bahkan menjadi ajang hihuran bagi pelaku.
 
"Saya mengajak para perempuan untuk membela diri dan tidak ragu melaporkan secepatnya ke polisi jika tertimpa hal semacam itu, agar pelaku dan orang yang berpikiran untuk melakukannya jera. Karena saya yakin si korban sendiri sebenarnya sudah berhati-hati," jelas Lathifa.
 
Lathifa menegaskan kasus penyiraman cairan diduga sperma di Bogor seakan menjadi bukti akan urgensinya pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) menjadi undang-undang, untuk memberi efek jera bagi para pelaku.
 
"Harapan saya ada tindakan tegas kepada pelaku teror cairan yang diduga sperma ini agar ada efek jera, hal seperti ini lah yang membuat RUU P-KS itu harusnya tetap masuk prolegnas tahun ini," bebernya.
 
Sebelumnya survei dari Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) menyatakan perempuan 13 kali lebih rentan mengalami pelecehan dari laki-laki di ruang publik. Mayoritas perempuan menjadi korban pelecehan di hari yang terang meski pakaiannya sudah tertutup, baik di lokasi umum maupun tempat tertutup. Pelecehan di jalanan terbilang lebih tinggi, yaitu sebesar 28,22 persen. Sedangkan pelecehan di transportasi umum sebanyak 15,77 persen.
 

(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif