Petugas kepolisian saat memantau titik banjir di Jalan Kastela, Perumahan Bengkuring, Samarinda, ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa. (ANTARA/Arumanto)
Petugas kepolisian saat memantau titik banjir di Jalan Kastela, Perumahan Bengkuring, Samarinda, ketinggian air mencapai sepinggang orang dewasa. (ANTARA/Arumanto)

Banjir di Samarinda Diduga karena Kerusakan Ruang Sungai

Nasional banjir Bencana Banjir BMKG Kalimantan Timur
Antara • 24 Oktober 2021 23:36
Samarinda: Aktivis lingkungan yang jugan pengamat sungai, Misman menilai lamanya durasi banjir di sejumlah titik di Samarinda hingga lima hari terakhir diduga disebabkan oleh rusaknya ruang sungai di kawasan hulu dan tengah.
 
"Ruang sungai atau daerah aliran sungai (DAS) itu meliputi gunung, bukit, lembah, rawa, dan titik yang paling dekat dengan sungai, yakni riparian," ujar Misman yang juga Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) di Samarinda, Minggu, 24 Oktober 2021.
 
Ia miris melihat gunung dan bukit digunduli, pohonnya ditebang, sehingga ketika hujan turun, maka tidak ada akar pohon yang dapat menyerap air hujan. Sehingga air langsung terjun bebas ke pemukiman warga.
 
Parahnya lagi, bukit di ruang sungai justru banyak yang dipangkas, kemudian tanahnya untuk menguruk rawa demi permukiman. Sehingga ini merupakan perilaku perusakan lingkungan ganda, karena rawa yang diuruk pun berada di ruang sungai.
 
Baca: 9.444 Warga Terdampak Banjir di Samarinda
 
Menurutnya, DAS Karang Mumus yang memiliki luas 316,22 kilometer persegi atau 31.622 hektare dengan keliling sebesar 103,26 kilometer tersebut, awalnya memiliki ratusan rawa. Namun seiring perkembangan zaman dan pembangunan yang tidak ramah ruang sungai, maka kini yang tersisa hanya beberapa rawa, itu pun sudah dikuasai oleh warga.
 
Keberadaan rawa dan bukit dalam DAS sangat vital untuk mengurangi banjir (bukan mencegah), karena air hujan tidak langsung terbuang ke sungai, tapi ditampung di rawa dan akar-akaran di perbukitan.
 
"Dari rawa dan perbukitan, air akan dialirkan secara perlahan ke sungai sehingga tidak terjadi limpahan air terlalu besar. Ini adalah pekerjaan alam per detik, manusia tidak akan sanggup menggantikan, maka kita jangan mimpi bisa mengatasi banjir jika ruang sungai masih rusak," ucapnya.
 
Keberadaan rawa dan bukit yang masih terawat atau tidak dirusak manusia juga untuk menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas sungai, yakni sungai tetap mengalir meski musim kemarau.
 
"Tidak seperti sekarang, di musim hujan limpahan air begitu kuat yang akhirnya terjadi banjir. Sedangkan di musim kemarau, sungai mengering karena tidak ada aliran dari rawa maupun perbukitan akibat ruang sungai kita memang rusak parah," tutur Misman

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif