Bocah SD Penjual Sabu Disebut Salah Asuh
Makmur, Ketua Tim Reaksi Cepat P2TP2A Makassar. Medcom.id/Andi Aan Pranata
Makassar: RE alias CI, bocah sekolah dasar (SD) yang diduga mengedarkan sabu, kini dititipkan ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Makassar, Sulawesi Selatan. Dia bakal mendapat pembinaan sembari menunggu proses hukum di kepolisian.

RE, 12 tahun, diserahkan oleh orang tuanya kepada Polsek Tallo Makassar Jumat pekan lalu. Dia sebelumnya menghilang usai rekannya, AL yang duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) ditangkap membawa satu paket sabu. Sabu itu disebut milik RE, yang rencananya dijual seharga Rp200 ribu.

Makmur, Ketua Tim Reaksi Cepat P2TP2A Makassar mengatakan, RE sempat tertekan secara psikologi setelah diserahkan ibunya ke polisi. Namun lambat laun dia bisa beradaptasi dengan lingkungan tempat penitipan dan perlahan mau berbagi cerita dengan tenaga pendamping.


"Kami dengan kepolisian memberikan dia arahan dan pengertian, bahwa tempat ini bukan penjara. Kita ini mau nantinya jangan ada lagi yang seperti dia," kata Makmur di rumah pembinaan P2TP2A Makassar jalan Anggrek, Senin, 10 September.

Baca: Bocah Pengedar Narkoba Sudah Dua Bulan Konsumsi Sabu

RE mengaku dia tidak sengaja menemukan sabu tak bertuan tak jauh dari tempat tinggalnya di kawasan Kampung Gotong, Tallo. Namun, tak tertutup kemungkinan anak itu memang dimanfaatkan sebagai kurir oleh sebuah jaringan pengedar narkoba.

Makmur menilai keterlibatan murid sekolah dasar pada peredaran narkotika sangat memprihatinkan. Ini terjadi karena berbagai faktor. Yang paling berpengaruh adalah lingkungan tempat tinggalnya yang diduga tidak asing dengan aktivitas seputar narkoba.

Faktor dominan lain adalah pola asuh orang tua yang tidak benar. "Saya melihat banyak orang tua yang tidak pusing dengan anaknya ketika sudah sibuk bekerja. Sekolah saja bisa terputus karena tidak ada perhatian" ujarnya.

Baca: Anak-Anak Rentan Dijadikan Kurir narkoba

Anak yang kurang perhatian, kata Makmur, memang bisa jadi sasaran empuk penjahat kriminal. Pelaku dari kalangan dewasa mungkin  ingin memanfaatkan celah hukum yang mengistimewakan anak di bawah umur.

"Sepatutnya kita lebih waspada. Apalagi di kampung-kampung yang selama ini diduga jadi tempat peredaran narkoba," Makmur mengungkapkan.


 



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id