ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Muhammadiyah Jatim Keluarkan Fatwa Larangan Salat Idulfitri di Masjid

Nasional Virus Korona
Amaluddin • 17 Mei 2020 23:08
Surabaya: PW Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menginstruksikan warganya melaksanakan salat Idulfitri di rumah. Fatwa ini disampaikan menindaklanjuti surat edaran (SE) Pemprov Jatim Nomor 451/7809/012/2020, yang membolehkan menyelenggarakan salat Idulfitri, secara berjemaah di masjid, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
 
"Muhammadiyah menurunkan fatwa melarang salat Idulfitri di masjid dan lapangan, sekaligus menolak (SE Pemprov Jatim) itu," kata Wakil Ketua PWM Jatim, Nadjib Hamid, dikonfirmasi, Minggu, 17 Mei 2020.
 
Najib menyayangkan sikap Pemprov Jatim yang memberikan kelonggaran, di tengah penerapan PSBB di Surabaya Raya. Najib menilai Pemprov Jatim tidak serius dalam menerapkan PSBB di wilayahnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita menetapkan PSBB tapi kok memberi kelonggaran, tentu ini sikap yang plin plan. Kita ini mau apa sebenarnya, kalau dampaknya masih segini dan berharap segera berakhir, saya kira itu tidak konsisten," jelas Nadjib.
 
Baca:Khofifah Izinkan Pelaksanaan Salat Idulfitri di Masjid
 
Nadjib meminta pemerintah tidak membuat bingung masyarakat, dan konsisten dalam mengambil kebijakan. "Jangan plin plan di tengah jalan. Aspek keagamaan sudah selesai bahwa ini dhorurot. Menjalankan ibadah di tengah dhorurot kan juga syariat," tandasnya.
 
Sementara itu, Ketua PMW Jatim Saad Ibrahim membenarkan bahwa PP Muhammadiyah telah menerbitkan surat edaran nomor 04/EDR/1.0/E/2020, tentang tuntunan Salat Idulfitri dalam kondisi darurat Pandemi Covid-19.
 
Fatwa ini dikeluarkan sesuai arahan dari Kementerian Agama (Kemenag), meminta agar masyarakat salat Idul Fitri di rumah. "Menteri Agama (Menag) sudah jelas kalau menggelar salat Idul Fitri di rumah. Ini situasi khusus, saya kira Indonesia sulit keluar dari covid-19 ini," kata Saad.
 
Dalam musibah seperti saat ini, lanjut Saad, semua elemen masyarakat harus satu garis agar pandemi covid-19 segera bisa usai. Ia menyayangkan Pemprov Jatim memberi kelonggaran salat Idul Fitri di masjid. "Jika dilaksanakan secara berjamaah dikhawatirkan akan terjadi penularan yang besar antar jemaah. Di satu sisi kita berjuang melawan penularan ini dan rumah sakit kita sudah all out," ujar Saad.
 
Sebelumnya Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengeluarkan surat edaran (SE) memperbolehkan salat Idulfitri di masjid. Kebijakan ini menindaklanjuti SE dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), yang meminta pemerintah memperbolehkan pelaksanaan Idulfitri di masjid.
 
"Jadi surat edaran ini sama persis dengan surat edaran yang dikeluarkan MUI," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jatim, Heru Tjahjono, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu, 17 Mei 2020.
 
Sebelum mengeluarkan SE tersebut, lanjut Heru, Pemprov Jatim sebelumnya kedatangan tokoh-tokoh agama, yang memberi masukan terkait dibolehkannya salat Idulfitri. Meski demikian, kata Heru, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi jika masjid-masjid ingin menggelar salat Idulfitri.
 
"Salah satunya, bacaan khutbah dan surat-surat dalam salat tidak boleh terlalu panjang. Syarat tersebut sudah sesuai saran dari MUI," ujarnya.
 
Syarat lainnya, pengurus masjid harus menerapkan protokol kesehatan covid-19. Yaitu menerapkan jaga jarak lebih dari satu meter. Lalu barisan salat harus berjarak, demi menghindari kontak fisik. "Jamaah juga nantinya akan dilakukan pengukuran suhu tubuh, dan wajib pakai masker," jelasnya.
 
Selanjutnya, jamaah salat Idulfitri tidak boleh menyimpan sandal di luar masjid. Artinya, sandal harus di bawa ke dalam. Khusus di masjid Al-Akbar, kata Heru, nantinya akan disediakan plastik untuk tempat sandal agar bisa dibawa ke dalam.

 

(ALB)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif