Ilustrasi - Medcom.id.
Ilustrasi - Medcom.id.

Pasutri Pelaku Perdagangan Orang Ditangkap di Cianjur

Nasional perdagangan manusia
Benny Bastiandi • 17 November 2019 11:08
Cianjur: Pasangan suami istri (pasutri) di Cianjur, Jawa Barat, ditangkap polisi, diduga melakukan perdagangan manusia ke Timur Tengah. Polisi menggerebek salah satu vila di Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Cianjur, Jawa Barat, pada Sabtu, 16 November 2019, diduga menjadi tempat penampungan belasan wanita.
 
Kapolres Cianjur AKBJuang Andi Priyanto mengungkap kasus bermula dari laporan masyarakat di kawasan Cianjur utara. Kedua pelau diduga menyalurkan tenaga kerja wanita ke sejumlah negara di Timur Tengah dengan cara ilegal, padajal pemerintah masih memberlakukan moratorium pengiriman tenaga kerja.
 
"Di tempat itu kami menemukan kedua pelaku yang merupakan pasangan suami-istri serta belasan perempuan yang menjadi korban dugaan perdagangan manusia," tuturnya kepada wartawan di Mako Polres Cianjur, Sabtu malam, 16 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kedua pelaku menampung korbannya dengan alasan sedang mengurus kelengkapan dokumen keberangkatan. Polisi menemukan identitas para korban diduga aspal saat penggerebekan.
 
"Saat dikonfrontir, pelaku tidak bisa menjelaskan mereka (para korban) akan dipekerjakan sebagai apa. Kami dalami lagi dokumen yang dipalsukan tersebut," jelasnya.
 
Para korbannya bukan hanya dari Cianjur. Sebagian berasal dari Karawang, Tangerang, Sukabumi, Cirebon, dan Bandung.
 
"Untuk modal awal keberangkatan, pelaku meminjamkan uang ke korbannya masing-masing sebesar Rp3 juta," ucapnya.
 
Juang menyebutkan para pelaku mengaku bekerja sendiri. Pihaknya masih mendalaminya untuk menelusuri indikasi sindikat perdagangan orang.
 
"Kami jerat pelaku dengan Pasal 4 dan 10 Undang-Undang Nomor 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Ancaman hukumannya pidana penjara paling sedikit 3 tahun dan paling lama 15 tahun atau denda paling sedikit Rp120.000.000 dan paling banyak Rp600.000.000," tandasnya.
 
K, 37, salah seorang korban warga Kota Tangerang, mengaku hampir dua pekan berada di tempat penampungan. Ia mengaku akan diberangkatkan ke Riyadh, Arab Saudi, pada 21 November 2019.
 
"Katanya saya akan dipekerjakan di Riyadh. Sudah diurus dokumennya. Saya enggak tahu itu (dokumen) palsu atau tidak," tuturnya.
 
Ia tak memungkiri mengetahui adanya moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah. Dia mengaku terpaksa harus kerja di luar negeri karena kebutuhan ekonomi.
 
"Saya juga dipinjamkan uang Rp3 juta untuk bekal dan keperluan lain-lain," ungkapnya.

 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif