Ilustrasi/Medcom.id.
Ilustrasi/Medcom.id.

Tarif Promo Ojek Daring Dikhawatirkan Timbulkan Monopoli

Nasional ojek online transportasi berbasis aplikasi
Husen Miftahudin • 19 Mei 2019 17:26
Jakarta: Perang promo ojek online (daring) dinilai membuat kebijakan tarif seolah tidak berlaku. Kondisi ini dirasakan perusahaan aplikator baru yang masuk dalam industri ini, salah satunya Bonceng.
 
"Tarif promo besar-besaran pada dasarnya tidak baik untuk mendewasakan pasar. User (konsumen) dimanjakan dengan harga murah sehingga ke depan tidak bagus. Ini akan menjadi predatory pricing," kata CEO Bonceng, Faiz Noval melalui keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu, 19 Mei 2019.
 
Padahal, menurutnya, kehadiran Bonceng diyakini bakal menciptakan iklim bisnis yang sehat. Dengan begitu, peluang berkompetisi dan bertumbuh dalam jangka panjang semakin terbuka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, gencarnya tarif promo ojek daring seperti yang dilakukan salah satu provider saat ini berpotensi besar memicu persaingan tidak sehat di bisnis transportasi daring. Jika pemain besar dengan modal kuat bisa terdampak, pelaku berskala usaha lebih kecil bakal kian terimpit.
 
Faiz berharap pemerintah membatasi tarif promo yang dilakukan aplikator. Intervensi tersebut perlu dilakukan regulator lewat penetapan tarif ojek daring melalui Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat. Ia berharap beleid itu berfungsi sebagaimana mestinya.
 
"Pemerintah mesti melihat ini dari sisi aturan. Tarif promo dilakukan untuk membatasi tarif promo pada minimal angka yang telah ditentukan oleh pemerintah. Kalau tidak, maka aturan tarif tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya," jelas dia.
 
Faiz beranggapan perang tarif promo secara jor-joran kali ini tak lain hanya sebuah ambisi untuk mendominasi pasar. Ia khawatir jika tarif promo besar-besaran tidak segera diatur, maka bakal menciptakan monopoli pasar.
 
"Apabila aksi ini terus dilakukan maka akan saling mematikan. Kalau kompetitor semuanya mati maka hanya akan ada satu pemain yang menguasai pasar sehingga harga tidak bisa dikontrol," pungkas Faiz.
 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif