Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.

Bahan Tembakau Sintetis di Surabaya Didatangkan dari Jabar

Nasional tembakau
Amaluddin • 07 Februari 2020 19:23
Surabaya: Salah satu apartemen di Surabaya yang menjadi home industri tembakau sintetis diketahui beroperasi sejak September 2019. Pelaku membeli bahan-bahan tembakau sintetis tersebut dari Jawa Barat.
 
"Kemudian bahan-bahan itu diolah pelaku di daerah Malang dan Nganjuk, kemudian dibawa ke Surabaya untuk dicampur zat kimia, dikemas serta diedarkan ke kota-kota besar di Indonesia," kata Wadirreskoba Polda Jatim, AKBP Nasriadi, di Surabaya, Jumat, 7 Februari 2020.
 
Kota-kota besar yang dimaksud, yakni kawasan Jakarta, Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Makassar. Pelaku menjual barang itu sejak September 2019 sampai Februari 2020, melalui media sosial yang kemudian dikirim lewat jasa pengiriman.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk mengelabuhi petugas paket tembakau sintetis itu dicampur dengan bahan lainnya. Seperti pakan ikan, pakan burung, agar paket lebih berat dan tidak dicurigai oleh petugas. "Jadi di salah satu apartemen yang digerebek tadi (Surabaya), merupakan tempat produksinya," jelas Nasriadi.
 
Dari penggerebekan itu, polisi menangkap empat orang yang masing-masing memiliki peran berbeda. Saat digerebek keempat pemuda itu tengah asik berpesta sabu di dalam kamar. Keempat orang itu itu adalah Aisul Riswad, 29, Wahab, 25, Noer, 30, dan Rico, 19.
 
"Para pelaku ini mengaku dalam sebulan bisa memproduksi sekitar 50 kilogram tembakau sintetis. Harganya lebih mahal dari ganja biasanya. Mereka menjualnya dengan harga per paketnya sekitar Rp400 hingga 600 ribu," ungkap Nasriadi.
 
Dari lokasi kejadian polisi menyita zat-zat kimia seperti alkohol 80 persen, zat esensial, zat pewarna, dan zat perasa. Nasriadi menyebut, efek halusinasi dari tembakau sintetis ini lebih berbahaya dan menyerupai tembakau gorila.
 
"Mereka sebut tembakau gayo yang mereka dapatkan dari Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Kemudian dibawa ke sini dan dicampur dengan zat kimia. Zat itu dikirim oleh bosnya, yang saat ini sedang kami kejar," pungkas Nasriadi.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif