Kepala Bappeda DIY, Budi Wibowo (kiri) dan Pakar perhotelan, Ade Noerwenda. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
Kepala Bappeda DIY, Budi Wibowo (kiri) dan Pakar perhotelan, Ade Noerwenda. Medcom.id/Ahmad Mustaqim

Tol Yogya-Cilacap Diharapkan Menekan Kemiskinan

Nasional infrastruktur
Ahmad Mustaqim • 13 November 2019 18:52
Yogyakarta: Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Daerah istimewa Yogyakarta (DIY), Budi Wibowo, mengatakan rencana pemerintah membuat Tol Yogyakarta-Cilacap harus terwujud mulai 2020. Keberadaan tol di bagian selatan Jawa ini diharapkan memberikan efek perkembangan perekonomian.
 
"Oleh karena itu Tol Yogya sampai Cilacap bagaimana pun juga 2020 nanti harus mulai dibangun," kata Budi dalam konferensi pers ‘Membangun Kemitraan Berkelanjutan untuk Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs)’ di Hotel Marriot Yogyakarta, Rabu, 13 November 2019.
 
Budi mengatakan keberadaan tol akan melengkapi infrastruktur lain, yakni kawasan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Konsep area bandara itu nantinya akan dibuat laiknya kota aerotropolis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kelengkapan infrastruktur akan diikuti dengan tergeraknya roda perekonomian. Berputarnya roda perekonomian ini diharapkan menurunkan angka kemiskinan di DIY.
 
Salah satu keyakinan budi yakni pada pertumbuhan perekonomian. Angka pertumbuhan perekonomian di DIY saat ini di atas angka tujuh. Sementara, pertumbuhan ekonomi nasional di bawahnya.
 
"Saya yakin pertumbuhan ekonomi masih tetap berada di atas rata-rata nasional. Sektor pariwisata di sini yang salah satunya akan dibangun dan berkembang," ujarnya.
 
Selain sisi barat, kata Budi, pemerintah juga tengah pengejar pemerataan pembangunan antara sisi selatan dan sisi utara. Ia menilai sisi selatan Yogyakarta, dalam hal ini Kabupaten Bantul, masih tertinggal dibanding sisi utara, yakni Kabupaten Sleman.
 
Pakar perhotelan, Ade Noerwenda, mengatakan pariwisata menjadi satu sektor yang terus berkembang ketimbang sektor lain, termasuk pada masa yang akan datang. Dia melihat situasi itu juga berlaku di DIY. Meskipun kunjungan wisatawan di DIY belum sebanyak di kota lain.
 
"Data BPS pada 2018, perjalanan wisatawan di atas 230 juta kali. Provinsi banyak perjalanan Jawa Timur dengan destinasi (kota-kota) di Jawa Timur. DIY masih tetap jadi destinasi," katanya.
 
Ade mengatakan industri wisata bergantung pada banyak orang. Banyaknya orang itu akan membuat ekosistem pariwisata yang bisa bertumbuh kembang.
 
"SDGs merupakan dasar untuk membangun ekosiste yang kuat. Ekosistem yang kuat menjadi berier untuk kompetisi. Yogyakarta contohnya. Provinsi lain meniru Yogyakarta akan tidak bisa. Mungkin ada dikatakan ferstival jazz, berasal dari Jogja. Ekosistemnya tidak bisa dilakukan di kota lain," ucapnya.
 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif