Komunikasi antar pos komunikasi di wilayah perbatasan negara tidak terjangkau sinyal seluler (Foto:MetroTV)
Komunikasi antar pos komunikasi di wilayah perbatasan negara tidak terjangkau sinyal seluler (Foto:MetroTV)

Susah Sinyal Seluler, Prajurit di Perbatasan Andalkan Radio Komunikasi

Nasional Berita Kominfo BAKTI
Gervin Nathaniel Purba • 23 November 2020 19:09
Merauke: Kehadiran teknologi informasi mempermudah kehidupan manusia. Sayangnya, belum semua wilayah di Indonesia terjangkau sinyal seluler dan internet. Misalnya, di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar) dan perbatasan negara.
 
Salah satu upaya menjaga kedaulatan negara ialah memastikan wilayah perbatasan aman dengan negara tetangga aman. Misalnya, wilayah perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini.
 
TNI berperan untuk menjaga wilayah perbatasan tersebut. Komandan Yonif 125 Si'Mbisa Letkol Inf Anjuanda Pardosi menjelaskan seputar batas-batas wilayah tersebut dengan Papua Nugini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di Kabupaten Merauke, terdapat 62 patok. Sebagai informasi, patok merupakan tanda fisik batas negara. Sebulan lalu, pemerintah pusat membangun lagi 30 patok, sehingga total ada 92 patok saat ini.
 
"Batas negara sudah diatur dengan koordinat. Nah, koordinat sebenarnya untuk meyakinkan, apakah ada pergeseran patok di lapangan. Apakah masih sesuai atau tidak dengan koordinat yang kita punya," ujar Anjuanda, dalam tayangan Bakti untuk Negeri, Metro TV, Sabtu, 21 November 2020.
 
Untuk memastikan keberadaan patok tidak bergeser, TNI rutin melakukan patroli patok. Tim patroli terdiri dari enam anggota.
 
Akses untuk menuju patok sangat tidak mudah. Jarak dari pos Kondo yang terletak di Desa Kondo, Kabupaten Merauke, Papua, ke patok sejauh 27 kilometer. Medan yang dilalui cukup menantang. Jalan bergelombang, hutan, rawa, dan sungai kecil.
 
Dalam memastikan kelancaran patroli, komunikasi menjadi sangat penting. Namun jaringan internet tampaknya belum menyentuh wilayah tersebut. Sementara, di wilayah Kondo masih bisa menerima sinyal 4G. Para prajurit mengandalkan radio untuk melakukan komunikasi.
 
Menurut Anjuanda, ada 14 pos yang belum mendapatkan jaringan internet. Dia berharap ke depan semua pos di wilayahnya sudah terjaring dengan jaringan internet untuk memperlancar komunikasi.
 
"Dengan terdukungnya jaringan, komunikasi antar pos komunikasi kepada pimpinan dan kepada lembaga terkait lebih lancar. Masalah pelaporan masih lambat, khususnya yang tidak ada jaringan," kata Anjuanda.
 
(ROS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif