Penyandang difabel masih bertahan dibawah tenda depan gedung Balai Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Kamis, 16 Januari 2020. Medcom.id/ Roni Kurniawan
Penyandang difabel masih bertahan dibawah tenda depan gedung Balai Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Kamis, 16 Januari 2020. Medcom.id/ Roni Kurniawan

Difabel Wyata Guna Tuntut Permensos 18 Tahun 2018 Dicabut

Nasional penyandang disabilitas
Roni Kurniawan • 16 Januari 2020 11:15
Bandung: Penyandang disabilitas masih bertahan ditenda depan Balai Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Kamis, 16 Januari 2020. Mereka mendesak Permensos nomor 18 tahun 2018 untuk segera dicabut.
 
Dalam Permensos tersebut disebutkan jika panti dirubah menjadi balai termasuk fungsinya yakni peserta didik hanya bisa mendapatkan fasilitas maksimal enam bulan. Sebelumnya saat menjadi panti, termasuk Wyata Guna, peserta didik bisa mendapatkan fasilitas hingga jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
 
"Kita minta Permensos nomor 18 tahun 2018. Karena kita ingin panti bukan balai, balai itu tidak berpihak kepada kami," kata Elda, koordinator penyandang disabilitas, di depan Balai Wyata Guna.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Elda mengaku bersama 32 penyandang disabilitas lainnya datang ke Wyata Guna saat masih berstatus panti. Sehingga mereka bersikukuh untuk tetap mendapatkan pelayanan dari Wyata Guna untuk menuntut ilmu.
 
"Karena enggak mungkin kita belajar hanya enam bulan, mau dapat apa kita. Apalagi ini Wyata Guna satu-satunya pusat disabilitas di Jabar, bahkan di Indonesia yang masih ada cuman disini," jelas Elda.
 
Ia pun mengkhawatirkan nasib adik-adiknya yang kini masih duduk di bangku sekolah luar biasa (SLB). Terlebih mayoritas peserta didik datang dari berbagai daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera hingga Kalimantan yang kini menimba pengetahuanndi Wyata Guna.
 
"Yang datang ke sini tuh masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah, atau kurang mampu. Kalau yang mampu kan enggak mungkin kesini. Jadi ini (Wyata Guna) harapan bagi temen-temen disabilitas terutama tuna netra untuk mendapat ilmu," ungkap Elda.
 
Aksi perjuangan tersebut pun diakui Elda akan terus dilakukan hingga mendapat kepastian dari Kementerian Sosial terkait aturan tersebut. "Ya sampai tuntutan kita dikabulkan. Kalau belum, kita akan tetap di sini, perjuangkan hak kita," pungkas Elga.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif