Kampus ITB. Foto: Dok. ITB
Kampus ITB. Foto: Dok. ITB

Mutu Pendidikan Dinilai Turun, Rektor hingga Mendikbud Disomasi Ortu Mahasiswa SBM ITB

Roni Kurniawan • 15 Mei 2022 16:08
Bandung: Forum Orangtua Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) melayangkan somasi kepada rektor, pimpinan Majelis Wali Aamat (MWA) ITB, dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada Kamis, 12 Mei 2022. Somasi terkait permasalahan antara rektor dan dosen SBM ITB yang dinilai tidak terbuka terhadap para orangtua mahasiswa.
 
Menurut perwakilan orangtua mahasiswa, Alin Nurdin, somasi dengan Nomor 006/FOM-SBM/V/2022 dilayangkan sebagai langkah hukum FOM SBM ITB karena tak kunjung mendapatkan informasi mengenai permasalahan di perguruan tinggi negeri tersebut.
 
"Surat somasi sudah minggu lalu, 12 Mei dikeluarkan dan sudah disampaikan ke Rektorat ITB, MWA, dan Mendikbud," kata Ali saat dihubungi Medcom.id via telepon, Minggu, 15 Mei 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ali menuturkan, para orangtua mahasiswa dinilai berhak untuk mendapatkan informasi terkait permasalahan Rektor dan dosen ITM. Pihaknya telah meminta agar rektor, MWA, dan dekanat SBM ITB mengundang orangtua mahasiswa guna memberikan penjelasan resmi perkembangan penyelesaian kasus di SBM ITB yang sudah berjalan selama dua semester.
 
Baca juga: Mahasiswa ITB Ini Buktikan Tetap Berprestasi di Tengah Segudang Kesibukan
 
"Berdasar UU nomor 20 tahun 2003 pasal 7 ayat 1 tentang sistem pendidikan nasional yang menyebut orangtua berhak berperan serta dalam memilih satuan pendidikan dan memperoleh informasi tentang perkenbangan pendidikan anaknya, upaya yang kami lakukan selama ini untuk memperoleh informasi dan kepastian tentang mutu pendidikan di SBM ITB," beber Ali.
 
Diakui Ali, orangtua mahasiswa SBM ITB memberikan waktu 10 hari kerja agar somasi ditanggapi. Terlebih para orangtua mahasiswa telah menghadap direktur jenderal pendidikan tinggi Kemendikbud pada 1 April 2022 untuk menyampaikan permasalahan tersebut. 
 
"Dalam pertemuan itu, kami mendapat informasi bahwa Kemendikbud telah meminta MWA ITB dan rektor ITB untuk menyelesaikannya. Tetapi sampai sekarang kami tidak pernah tahu apa permasalahanya telah selesai atau belum," sahutnya.
 
Ali menilai, sejak Desember 2021 hingga awal Mei 2022, atau selama dua semester, telah terjadi pengurangan mutu pendidikan di SBM ITB.
 
Baca juga: Mutu Pendidikan di Kabupaten Kupang Diharapkan Terus Meningkat
 
Salah satu contoh, tidak ada dosen tamu dari luar negeri dan dosen praktisi serta tak ada kegiatan mentoring termasuk tak ada pengembangan softskill bagi mahasiswa yang menjalani program double degree/double exchange. Hal itu memengaruhi penilaian akreditasi AACSB yang sudah diperoleh secara susah payah oleh SBM ITB.
 
"Kami berikan waktu 10 hari untuk menyelesaikan permasalahan di SBM ITB," ungkapnya.
 
Sebelumnya, konflik terjadi usai Rektor ITB, Reini Wirahadikusumah, mencabut hak swakelola SBM ITB sekitar enam bulan lalu. Hal ini ditandai dengan dicabutnya Surat Keputusan (SK) Rektor ITB Nomor 203/2003 serta digantikan dengan peraturan baru. Bahkan mahasiswa diminta belajar mandiri mulai Selasa, 8 Maret 2022. 
 
SK Rektor ITB 203/2003 menjelaskan SBM ITB merupakan sebuah unit yang merencanakan, mengorganisasikan, mengendalikan, dan mengevaluasi sumberdaya, mencakup dosen, peneliti, staf administrasi, sarana dan prasarana akademik, anggaran operasional akademik, anggaran pemeliharaan dan anggaran investasi pengembangan dalam ruang lingkupnya dengan sistem keuangan mandiri. Ini artinya, SBM ITB diberi otonomi untuk mencari dana dan membiayai kebutuhannya sendiri tanpa suntikan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif