Sejumlah warga kelompok rentan di barak pengungsian merapi di Balai Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan. (Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim)
Sejumlah warga kelompok rentan di barak pengungsian merapi di Balai Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan. (Foto: Medcom.id/Ahmad Mustaqim)

Pemerintah DIY Minta Warga Lereng Merapi Tak Buru-buru Pulang

Nasional gunung merapi bencana alam erupsi gunung
Ahmad Mustaqim • 21 Januari 2021 06:00
Yogyakarta: Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meminta warga Kabupaten Sleman di lereng Gunung Merapi yang mengungsi tak buru-buru kembali ke rumah. Meski arah luncuran material ke arah barat-barat daya atau wilayah Magelang, namun ancaman sewaktu-waktu akibat erupsi bisa terjadi. 
 
"(Dampak) aktivitas (vulkanis Gunung Merapi) sudah agak berkurang, tapi BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi) dan BPBD belum mengubah status merapi," kata Sekretaris Daerah Pemerintah DIY, Kadarmanta Baskara Aji di Yogyakarta, Rabu, 20 Januari 2021. 
 
Ia mengatakan, mengantisipasi dampak erupsi di tengah status siaga lebih baik dibanding telanjur. Ia mencontohkan dampak erupsi Gunung Semeru yang dirasakan warga tanpa adanya persiapan. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jaga-jaga lebih baik dibanding seperti di Semeru. Tidak ada perispan apa-apa, erupsinya besar. Wedus gembel (awan panas) sampai 4,5 kilometer," ujarnya. 
 
Baca juga: Tiga Pengungsi Sulbar di Makassar Terpapar Covid-19
 
Kadarmanta menilai, kelompok rentan harus menjadi pihak utama yang tetap bertahan di barak pengungsian Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman. Ia mengatakan, seluruh pihak tetap harus hati-hati. 
 
"Kalau dadakan (mengungsikan warga), repot. Situasi covid-19 juga. Kehati-hatian lebih baik," kata dia.
 
Terbaru, BPPTKG mencatat Gunung Merapi alami mengeluarkan delapan kali guguran awan panas dalam waktu kurang dari enam jam. Rincian waktunya terjadi pukul 14.07; 14.27; 14.58; 15.26; 16.22; 16.56; 17.14; dan 17.17. 
 
"Awan panas delapan kali itu maksimum surasinya 192 detik dengan jarak luncur maksimal 1.500 meter ke arah barat daya," ujar Kepala BPPTKG, Hanik Humaida. 
 
Aktivitas vulkanis Gunung Merapi berupa guguran, baik lava pijar dan panas, cukup sering terjadi sejak awal 2021. Bahkan, kubah lava di sudah terbentuk dan volumenya sudah lebih dari 85 ribu meter kubik. Status Gunung Merapi masih siaga dan jarak aman aktivitas manusia sekitar lima kilometer dari puncak. 

 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif