Kejati Jateng melakukan konferensi pers terkait kelangkaan obat covid-19, Kamis, 22 Juli 2021. Medcom.id/ Mustholih
Kejati Jateng melakukan konferensi pers terkait kelangkaan obat covid-19, Kamis, 22 Juli 2021. Medcom.id/ Mustholih

Kejati Jateng Temukan Kejanggalan Kelangkaan Obat Covid-19

Nasional pandemi covid-19 vaksin covid-19 protokol kesehatan PPKM Darurat
Mustholih • 22 Juli 2021 17:13
Semarang: Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah menemukan kejanggalan di balik kelangkaan obat covid-19 semasa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat di Jateng.
 
Kepala Kejati Jateng, Priyanto, mengatakan kelangkaan obat covid-19 tersebut ternyata disebabkan oleh harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pabrik berbeda dengan yang ditentukan Kementerian Kesehatan.
 
"Inilah permasalahan di daerah, sehingga apotik tidak bisa membeli," kata Priyanto di Semarang, Jateng, Kamis, 22 Juli 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Demak Berlakukan PPKM Level 3
 
Priyanto menjelaskan sebagai contoh, harga tertinggi obat azithromycin yang ditetapkan Kementerian Kesehatan hanya sebesar Rp1.700 per tablet tapi dijual oleh pabrikan dengan harga Rp18.400 per tablet. Dengan jomplangnya HET ini, Priyanto mengungkap apotek-apotek di Jateng menjadi takut berbelanja obat-obat covid-19.
 
"Apotek tidak bisa membeli. (Takut) dianggap menggelembungkan (harga) karena tidak sesuai HET. Ini yang terjadi," jelas Priyanto.
 
Priyanto mengatakan imbas dari hal tersebut, selama masa PPKM darurat terjadi kekosongan obat covid-19 hampir merata di seluruh apotek di Jateng. Bahkan suplemen vitamin pun sampai sulit ditemukan di Jateng.
 
"Hasil evaluasi kita, stok obat covid-19 di hampir semua apotek di jateg menipis dan banyak kosong. seperi obat favipiravir, azithromycin infus dan tablet. Bahkan vitamin-vitamin suplemen seperti imbost saja kosong," jelas Priyanto.
 
Menurut Priyanto, selain obat-obatan covid-19, semasa PPKM darurat, stok oksigen di Jateng juga mengalami kelangkaan. Guna mengatasi kelangkaan obat dan oksigen, Priyanto mengeklaim Kejati Jateng sedang melakukan penyelidikan alur distribusi dari hulu sampai ke hilir.
 
"Ini harus dicari pemecahannya. Kita indikasikan banyaknya obat dibeli oknum-oknum dijual online meski harga lebih tinggi dari apotek. Kita selidiki alur dari hulu ke hilir seperti apa," ungkap Priyanto.
 
 
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif