Tiga mantan pasien positif korona. Medcom.id/Okta
Tiga mantan pasien positif korona. Medcom.id/Okta

Cerita Penyintas Korona Menjalani Isolasi 16 Hari

Nasional Virus Korona
Octavianus Dwi Sutrisno • 20 Maret 2020 18:42
Depok: Tiga pasien yang sempat positif terinfeksi virus korona (Covid-19) telah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang. Mereka adalah Pasien 01, Pasien 02, dan Pasien 03.
 
Lantas bagaimana pengalaman mereka selama menjalani perawatan dan isolasi di RSPI Dr Sulianti Saroso Jakarta Utara? Berikut penuturan mereka.
 
Pasien 01 mengatakan selama dirawat dan isolasi di RSPI Dr Sulianti Saroso sejak 2 Maret 2020 tak ada yang berubah dalam hidupnya. Komunikasi dengan keluarga dan bekerja melalui laptop tetap dilakukan selama masa inkubasi 13 hari.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal itu lantaran selama diisolasi dirinya tidak pernah demam. Temperatur tubuhnya hanya berkisar 36 derajat celsius. Keluhan yang dirasakannya hanya batuk.
 
"Total 16 hari nonstop saya diinfus karena paru-paru masih bercak dan saya merasa ketika bernapas panjang kemudian membuang napas selalu batuk. Tapi di luar itu tidak ada lagi yang terasa," ujar pasien berinisial SI ini.
 
Selama menjalani masa pemulihan, SI mengaku masih bisa menjalin komunikasi dan bekerja. Diakuinya, proses isolasi tidak menyeramkan seperti yang dibayangkan oleh khalayak ramai.
 
Pihak rumah sakit juga mengizinkan pasien membawa ponsel dan laptop, sehingga dirinya bisa berkomunikasi dengan keluarga. "Kita jadi senang, bisa ngobrol sama keluarga. Kondisi ini membuat imunitas tubuh kami meningkat," terangnya.
 
Segendang sepenarian dengan Pasien 01, Pasien 03 juga merasakan hal yang sama. Ia menceritakan pengalaman berharga selama diisolasi. Pemikiran yang positif dan mental kuat menjadikan dirinya cepat memperoleh kesembuhan.
 
Selama diisolasi, RA kerap berkomunikasi dengan ibu dan kakaknya lewat handphone. Bahkan uniknya, wanita itu sempat ditegur perawat yang memantau lewat kamera CCTV.
 
"Jadi di setiap kamar ada intercomm dan CCTV. Saya ditegur karena teleponan sambil jalan di tempat tidur, katanya hati-hati Mbak nanti jatuh ke belakang," katanya sambil tersenyum.
 
Selain itu, dirinya juga sempat berhubungan dengan rekan-rekannya yang berada di Australia melalui video call, mereka selalu memberikan semangat kepada RA dan keluarganya agar lekas sembuh.
 
"Justru yang membuat saya sedih adalah stigma masyarakat di media sosial sangat jelek terhadap kakak dan ibu saya, mereka akhirnya memprivatkan media sosialnya. Saya sempat stres tapi, selalu diingatkan agar selalu berpikiran positif," ujar RA.
 
(ALB)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif