Ilustrasi senjata api/ANT/Yulius Satria Wijaya
Ilustrasi senjata api/ANT/Yulius Satria Wijaya

KKB di Tembagapura Diperkirakan Memiliki Belasan Senjata Api

Nasional senjata api
06 November 2017 07:07
medcom.id, Timika: Kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, diperkirakan memiliki belasan pucuk senjata api. Senjata itu digunakan meneror dengan menembak kendaraan dan fasilitis PT Freeport maupun perlawanan kepada aparat.
 
"Mereka punya senjata api antara 10-15 pucuk," kata Kapolda Papua Irjen Boy Rafli Amar seperti dilansir Antara, Senin 6 November 2017.
 
Bekas Kadiv Humas Polda Metro Jaya itu memprediksi KKB yang kini berbaur dengan masyarakat di beberapa kampung wilayah itu berasal dari dua kelompok. Mereka diduga memiliki 30-an personel.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Upaya pengejaran, terang Boy, masih terhambat lantaran mereka selalu bersembunyi di balik lereng bukit terjal.
 
"Habis ganggu lari, habis ganggu lari. Mereka pintar lari dan bersembunti di bukit-bukit karena mungkin sudah kebiasaan. Tapi pasti kami akan kejar terus," tegas Boy.
 
Pasukan Brimob dibantu TNI sudah berada di area Tembagapura untuk menngejar peneror tersebut.
 
Kelompok tersebut diketahui membakar sejumlah gubuk liar milik pendulang emas tradisional di sepanjang bantaran Kali Kabur dekat perkampungan Utikini Lama dan Kimbeli, Distrik Tembagapura. Keberadaan gubuk-gubuk liar itu sebenarnya telah ditertibkan aparat karena dianggap dapat membahayakan keselamatan pendulang emas tradisional.
 
"Yang mereka bakar itu rumah-rumah kayu di pinggir sungai yang dibuat oleh para pendulang. Itu memang daerah terlarang, tapi selama ini para pendulang bandel. Rupanya mereka juga menjadi sasaran kelompok ini," jelas Boy.
 
Aparat telah meminta mereka segera meninggalkan kawasan pendulangan emas tradisional di sepanjang aliran Kali Kabur guna memudahkan pengejaran KKB. Namun, permintaan tersebut belum ditanggapi.
 
"Pendulangnya tidak mau, kita sudah imbau tapi mereka tidak mau. Mungkin karena di situ lah lokasi mereka mencari makan, padahal daerah di sepanjang bantaran kali itu sangat berbahaya. Sudah beberapa kali kejadian longsor sampai menelan korban jiwa," ujar Boy.
 

(OJE)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif