Pelatihan peningkatan kompetensi imam dan khatib oleh KIC di Brebes, Jawa Tengah, Kamis, 31 Oktober 2019. Medcom.id/Kuntoro Tayubi
Pelatihan peningkatan kompetensi imam dan khatib oleh KIC di Brebes, Jawa Tengah, Kamis, 31 Oktober 2019. Medcom.id/Kuntoro Tayubi

Menangkal Radikalisme di Brebes

Nasional radikalisme
Kuntoro Tayubi • 31 Oktober 2019 15:15
Brebes: Kanzul Ilmi Center (KIC), Kabupaten Brebes melakukan berbagai cara untuk mencegah radikalisme, transideologi, dan terorisme di kalangan masyarakat. Direktur KIC, Kabupaten Brebes, Ahmad Najib Affandi, mengatakan pihaknya sering menggelar pelatihan peningkatan kompetensi imam dan khatib untuk membendung paham-paham menyimpang.
 
"Ini langkah nyata KIC dalam ikut serta membantu pemerintah dalam menanggulangi radikalisme, transideologi dan terorisme karena tiga hal diatas telah mengatasnamakan agama telah nampak nyata dalam aksinya," kata Ahmad kepada Medcom.id, Kamis, 31 Oktober 2019.
 
Ahmad menjelaskan setiap pelatihan menghadirkan 300 hingga 400 peserta. Ada tiga nara sumber yang dihadirkan yakni Direktur KIC Bumiayu Ahmad Najib Affandi menyampaikan Fiqh salat, Penasehat Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Cabang Brebes Aminudin Abdurrasyid menyampaikan tentang Fiqh Jumat dan Penasehat Himasal Ahmad Sururi menyampaikan Fiqh Salat Jumat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pelatihan juga didukung Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) Cabang Brebes, di hadiri antara lain Kepala Kantor Kementerian Agama Kab Brebes, Muspika setempat, para Kepala Kantor Urusan Agama serta para tokoh masyarakat dan agama.
 
Sementara Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Pontren Kantor Kementrian Agama Kabupaten Brebes, Akrom Jangka Daosat, mengatakan semua pihak wajib memahami tentang radikalisme, transideologi, dan terorisme. Termasuk para imam dan khatib yang ada di daerah.
 
Menurut Akrom, saat ini banyak yang tidak memahami konsep Islam Nusantara tetapi langsung saja menolak konsep yang ditawarkan oleh NU tersebut.
 
"Islam Nusantara, merupakan penjelasan bahwa Islam yang dianut di Indonesia adalah Islam yang menghargai kearifan lokal, seperti yang pernah dilakukan oleh para walisongo dan ulama-ulama pendahulu. Karenanya, kita harus bersyukur sebagai jamaah Nahdlatul Ulama. Karena NU tak goyah dan menjadi garda terdepan yang membentengi Indonesia, dari ulah kaum radikalisme, transideologisme dan terorisme," pungkas Akrom.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif