Ilustrasi. (Foto: Medcom.id)
Ilustrasi. (Foto: Medcom.id)

Potensi Bahaya Gunung Merapi Berubah

Nasional gunung merapi bencana alam erupsi gunung
Media Indonesia.com • 20 Januari 2021 08:33
Yogyakarta: Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, Hanik Humaida, mengungkapkanerupsi Gunung Merapi sudah terjadi sejak 4 Januari 2021. Kondisi ini telah mengubah potensi bahaya erupsi Merapi.
 
Hanik mengatakan aktivitas erupsi Merapi terpanjang terjadi pada Selasa pagi, 19 Januari 2021. Guguran lava pijar dan awan panas tercatat sejauh 1.800 meter yang disebut dengan erupsi efusi.
 
"Sampai dengan saat ini terjadi 10 kali awan panas yaitu pada 7 Januari sebanyak empat kali;  pada 9, 13, 16 Januari dua kali; dan pada 18-19 Januari 2021 satu kali dengan dominasi luncuran sekitar 500 meter," terang Hanik. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, saat ini potensi dan daerah bahaya erupsi Gunung Merapi sudah berubah mengingat erupsi bersifat efusif serta memperhatikan arah erupsi yang mengarah ke barat.
 
"Per 15 Januari 2021, distribusi probabilitas erupsi dominan ke arah erupsi efusif 40% dan eplosif 21%. Sehingga potensi erupsi eksplosif dan kubah dalam menurun signifikan," ungkapnya.
 
Baca juga: Penyintas Banjir dan Longsor di Jember Butuh Bantuan
 
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik jika terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau sejauh maksimal 3 km dari puncak dengan jarak awan panas maksimal 1,8 km. 
 
"Masih cukup jauh dari pemukiman yang berjarak 6,5 km," kata dia.
 
Seiring berlangsungnya erupsi, saat ini aktivitas seismik, deformasi, dan gas menurun signifikan. Kegempaan internal 27 kali per hari. Deformasi 0.3 cm/hari, gas vulkanik CO2 saat ini 600 ppm dalam tren menurun. Kejadian guguran tinggi dan dominan bersumber di lokasi erupsi.
 
"Berdasarakan data pemantauan seismik, deformasi, dan gas menurun. Tidak ada tekanan magma berlebih yang mencerminkan tambahan suplai magma," jelas Hanik.
 
Kepala BPBD Sleman Joko Supriyanto mengatakan walaupun merapi sudah di fase erupsi efusi tetapi Pemkab Sleman belum memperbolehkan para pengungsi lereng merapi untuk pulang. Mengingat Pemkab Sleman masih memberlakukan PTKM (pengetatan Secara Terbatas Kegiatan Masyarakat) 11 hingga 25 Januari 2021.
 
"Hingga 25 Januari 2021 pengungsi tetap di barak pengungsian sambil menunggu kebijakan yang mempertimbangkan kondisi Merapi dari pihak BPPTKG serta Instruksi Bupati," imbuh Joko. (Agus Utantoro)
 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif