Mesin pompa air saat dicoba sebelum dibagikan kepada para petani di kantor Distan KP Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Medcom.id/Kuntoro Tayubi)
Mesin pompa air saat dicoba sebelum dibagikan kepada para petani di kantor Distan KP Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. (Medcom.id/Kuntoro Tayubi)

63 Hektare Sawah di Tegal Gagal Panen Gara-gara Hama Wereng

Nasional gagal panen
Kuntoro Tayubi • 18 November 2020 18:35
Tegal: Sedikitnya 63 hektare (Ha) tanaman padi di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, gagal panen. Lahan itu mayoritas di wilayah Kecamatan Kramat dan Suradadi.
 
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kabupaten Tegal, Toto Subandrio mengatakan gagalnya panen padi karena diserang hama wereng sejak awal tahun hingga Oktober.
 
Meski demikian, para petani yang mengalami gagal panen sudah diasuransikan. Mereka mendapat asuransi sebesar Rp6 juta untuk 1 Ha lahan pertanian. Total asuransi yang sudah dibagikan kepada petani sebanyak Rp362 juta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Jadi untuk premi asuransinya, petani disubsidi oleh pemerintah 80 persen. Sedangkan sisanya dibayar oleh petani sendiri," kata Toto, di sela-sela penyerahan bantuan kepada para petani berupa mesin pompa air, selang, LPG 3 Kg, regulator dan perangkat konverter, di kantor Distan KP setempat, Rabu, 18 Nopember 2020.
 
Bantuan itu berasal dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan dihadiri oleh Dirjen Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Anggota Komisi VII DPR RI, Bupati Tegal yang diwakilkan Staf Ahli Bupati Bidang Pembangunan, Perekonomian dan Keuangan Berlian Adjie, serta PT Pertamina.
 
Toto menegaskan, gagal panen di tahun ini tidak mempengaruhi hasil produksi padi di Kabupaten Tegal. Sebab, total lahan pertanian di Kabupaten Tegal lebih dari 38 ribu hektare. Setiap tahun, para petani bisa menanam padi satu kali hingga tiga kali. Bagi petani yang hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun, maka akan mendapatkan bantuan mesin pompa air ini.
 
"Mesin pompa air ini bisa digunakan disaat musim kemarau. Sehingga petani bisa lebih produktif," ujarnya.
 
Dia menjelaskan, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) ini jumlahnya 400 unit. Bantuan dibagikan kepada petani di 14 kecamatan yang kerap kesulitan pengairan ketika musim kemarau. Semula, mesin pompa air ini menggunakan bahan bakar minyak (BBM). Tapi sekarang dikonversi dengan menggunakan bahan bakar gas (BBG) elpiji 3 kilogram.
 
"Ini lebih irit, lebih ekonomis 50 persen ketimbang menggunakan BBM," imbuhnya.
 
Senior Supervisor Komumikasi dan Relasi PT Pertamina Jawa Bagian Tengah, Arya Yusa Dwi Candra menjelaskan, program konversi pertanian menggunakan gas ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 38 tahun 2019 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG Tabung 3 Kg untuk kapal penangkap ikan dan para petani.
 
Dengan memanfaatkan BBG ini, petani bisa menghemat kebutuhan energi untuk operasional 30 sampai 50 persen. Perawatan mesin dengan LPG juga cenderung lebih mudah ketimbang mesin dengan BBM.
 
"Selain itu, kadar emisi gas buang juga lebih sedikit, jadi dapat berdampak baik untuk lingkungan,” ujarnya.
 
(ALB)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif