Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, Retno Listyarti, usai berkunjung ke Pemkot Malang, Kamis, 13 Februari 2020. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, Retno Listyarti, usai berkunjung ke Pemkot Malang, Kamis, 13 Februari 2020. Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Perundungan di Malang Ancam Status Kota Layak Anak

Nasional perundungan
Daviq Umar Al Faruq • 13 Februari 2020 15:58
Malang: Kasus perundungan yang menimpa seorang pelajar SMPN 16 Kota Malang, MS, 13, dinilai bakal mengganggu status Kota Layak Anak tingkat Madya yang diraih Kota Malang, Jawa Timur. Padahal Pemkot Malang sebelumnya berencana meningkatkan status Kota Layak Anak dari Madya ke level Nindya pada 2020.
 
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bidang Pendidikan, Retno Listyarti, mengatakan Kota Layak Anak tingkat Madya adalah raihan yang terhitung tinggi. Namun bukan berarti raihan tersebut membuat Kota Malang zero kekerasan.
 
"Bisa saja kekerasan terjadi di luar perkiraan sebagai sebuah Kota Layak Anak dengan kategori Madya. Ini Madya tinggi banget lho," kata Retno saat berkunjung ke Pemkot Malang, Kamis, 13 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya sebanyak 247 kabupaten/kota meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA) 2019 dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Ratusan daerah ini dibagi penghargaan dalam berbagai tingkatan, mulai Pratama, Madya, Nindya, Utama, hingga Kota Layak Anak. Kota Malang sendiri meraih Kota Layak Anak tingkat Madya.
 
"(Kasus perundungan) ini bisa menghambat ke tingkat Utama kalau tidak ditangani dengan baik," jelas Retno.
 
Oleh karena itu, KPAI menggelar rapat koordinasi bersama jajaran Pemkot Malang hari ini. Pertemuan ini untuk membahas penanganan terkait kasus perundungan yang menimpa anak tersebut.
 
"Karena sebenarnya banyak hal yang dilakukan Pemerintah Kota Malang terkait dengan pemenuhan hak-hak anak sebagai kota layak anak juga bagus dan diapresiasi," ungkap Retno.
 

 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif