Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.
Ilustrasi Medcom.id/ Mohammad Rizal.

Perempuan di Bantul Menderita Penyempitan Otak karena KDRT

Nasional kekerasan dalam rumah tangga
Ahmad Mustaqim • 17 Oktober 2019 14:50
Bantul: Seorang perempuan di Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, MP, kerap merasakan pusing saat kondisi badan kecapaian. Perempuan 40 tahun itu mengalami vertigo akibat tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dilakukan suaminya, Iskandarsah.
 
KDRT yang menimpa MP ini sudah berlangsung bertahun-tahun, bahkan sejak sebelum menikah. Meski begitu MP dengan Iskandarsah tetap menikah pada 2002.
 
"(Pelaku) niatnya akan berubah setelah menikah. Tapi akhirnya tetap tidak ada ada perubahan sampai punya anak," kata pendamping dan penasihat hukum korban, Siti Roswati Handayani kepada Medcom.id, Kamis, 17 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perempuan di Bantul Menderita Penyempitan Otak karena KDRT
Aksi menuntut keadilan bagi korban KDRT di Pengadilan Negeri Bantul, Kamis, 17 Oktober 2019. Medcom.id/Ahmad Mustaqim
 
Roswati mengatakan jika kliennya mendapatkan berbagai macam tindak kekerasan dari suaminya. Kekerasan fisik misalnya, MP berulang kali mendapatkan pukulan dan beragam perilaku kasar.
 
"Hamil pertamanya sempat keguguran karena perutnya mengalami benturan akibat perilaku pelaku," jelas Roswati.
 
Selain itu sejumlah bekas luka maupun dampak kekerasan masih dirasakan MP. Menurut Roswati rekam medis dari rumah sakit menunjukkan ada luka di bagian mata.
 
Selain itu hasil pemeriksaan dokter juga menunjukkan ada luka di bagian otak korban. "Korban juga alami penyempitan otak kanan," ungkap Roswati.
 
Menurut Roswati, kekerasan hingga perkataan kasar dari suami juga sempat dilakukan di hadapan dua anaknya yang kini berusia 15 tahun dan 12 tahun. Ia mengatakan MP mendapatkan kekerasan dari suami saat hidup di Jakarta.
 
Korban kemudian memutuskan pulang ke rumah orang tuanya di Bantul sekaligus memproses kasus itu. Kepada pendamping, korban mengaku mendapatkan perilaku kekerasan hampir sepanjang usia perkawinan.
 
"Kasus sempat diadukan ke Polda (DIY), lalu didelegasikan ke Polres (Bantul). (Pengusutan) kasusnya sempat dihentikan, tapi sekarang sudah di pengadilan. Korban dan pelaku saat ini sudah bercerai," beber Roswati.
 
Roswati kembali mengatakan jika pihaknya telah menyurati Mahkamah Agung serta masyarakat pemantau kinerja hakim untuk mengawal perkara ini.
"KDRT ini masuk kategori berat. Seharusnya pelaku juga dihukum berat," kata Divisi Humas, Internal, dan Kehumasan Rifka Annisa Woman Crisis Centre, Niken Anggrek Wulan.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif