Bentrok warga Koang Jaya Karawaci dengan petugas Satpol PP Kota Tangerang saat dilakukan eksekusi Makam Wareng. (Foto: Medcom.id/Hendrik)
Bentrok warga Koang Jaya Karawaci dengan petugas Satpol PP Kota Tangerang saat dilakukan eksekusi Makam Wareng. (Foto: Medcom.id/Hendrik)

Penggusuran Makam Wareng Berakhir Bentrok

Nasional penggusuran
Hendrik Simorangkir • 15 Oktober 2019 17:18
Tangerang:Proses eksekusi Makam Wareng Koang Jaya, Karawaci, Kota Tangerang, Banten, dilakukan secara paksa. Sejumlah alat berat diterjunkan hingga memicu bentrokan.
 
Pantauan di lokasi, petugas Satpol PP bahkan terlibat baku hantam dengan warga. Sejumlah orang pun dilaporkan terluka.
 
Kepala Satpol PP Kota Tangerang Agus Henra Fitrahiyana, mengatakan, pihaknya sudah melayangkan surat peringatan ketiga dalam rencana eksekusi wakaf. Bahkan, lanjutnya, dialog-dialog dalam melakukan persetujuan bersama pun telah dilakukan namun tak menemukan titik terang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami sudah melalui beberapa tahapan. Dialog juga sudah dan hari ini sesuai dengan rencana, yaitu penertiban di pemakaman Wareng," katanya, Selasa, 15 Oktober 2019.
 
Agus menuturkan pembongkaran Makam Wareng dilakukan karena warga tak dapat memperlihatkan legalitas pemakaman yang ada sejak zaman kolonial. Areal pemakaman itu pun tak jelas kepemilikannya.
 
"Warga merasa tanah ini milik mereka. Kita sudah memberi kesempatan agar bisa menyampaikan bukti-bukti kepemilikan. Namun sampai saat ini tidak bisa dibuktikan makanya kami tidak memberikan ganti rugi karena tanah ini bukan milik mereka," ungkapnya.
 
Sementara itu, negosiasi eksekusi Makam Wareng antara warga Koang Jaya dengan Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang, Banten, berakhir buntu. Hasil pertemuan tak menghasilkan mufakat.
 
"Hasil negosiasinya deadlock. Warga bersikeras tetap menolak pembongkaran," ujar salah satu warga Koang Jaya, Fakhrudin.
 
Fakhrudin mengatakan dalam proses negosiasi telah ditempuh. Warga bertatapan langsung dengan Camat Karawaci Tihar, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR), dan Dinas Sosial.
 
"Dalam negosiasi kami berupaya keras agar tanah yang akan digunakan untuk jalan sekitar 2.000 meter diganti. Namun, pemkot mengabaikan perjuangan orang tua kami," jelasnya.
 
Menurut Fakhruddin Pemkot Tangerang tak mau memenuhi keinginan warga yang menghendaki ada lahan makam pengganti. Pemerintah melalui sejumlah petugas Satpol PP justru melakukan pembongkaran secara paksa.
 
"Pemkot tidak memandang lagi sejarah masa lalu, mengabaikan kuburan-kuburan orang tua kami. Mereka ngotot karena kami tidak punya legalitas sehingga memaksa penggusuran tanpa penggantian," jelasnya.
 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif