Gunung merapi. AFP PHOTO/Agung Supriyanto
Gunung merapi. AFP PHOTO/Agung Supriyanto

Morfologi Gunung Merapi Berubah Signifikan dalam Sepekan

Nasional gunung merapi erupsi gunung
Ahmad Mustaqim • 09 Januari 2021 09:45
Yogyakarta: Kondisi morfologi atau tubuh Gunung Merapi berubah signifikan dalam sepakan terakhir. Laporan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), pengamatan sejak 1 hingga 7 Januari 2021 menunjukkan perubahan berbagai aspek. 
 
Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, menyampaikan perubahan terjadi sejak Gunung Merapi alami guguran lava pijar pertama pada 2021, yakni 4 Januari pukul 19.50 WIB. Guguran itu terekam di seismogram dengan amplitudo 33 milimeter dan durasi 60 detik. 
 
"Suara guguran terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan. Dalam satu minggu ini guguran lava pijar teramati sebanyak 19 kali dengan jarak luncur maksimal 800 meter ke hulu Kali Krasak," ujar Hanik dalam keterangan tertulis, Jumat malam, 8 Januari 2021. 
 
Setelah itu, guguran serupa terjadi pada 7 Januari sebanyak empat kali pada pukul 08.02, 12.50, 13.15, dan 14.02 WIB. Jarak luncur awan panas guguran diperkirakan kurang dari 1 km ke arah hulu Kali Krasak.
 
Baca: Gunung Merapi Masuki Fase Awal Erupsi
 
Analisis morfologi area puncak berdasarkan foto dari sektor barat daya tanggal 7 Januari 2021 menunjukkan adanya perubahan dibanding pada 24 Desember 2020. Perubahan yang tampak yakni adanya perubahan morfologi area puncak karena aktivitas guguran dan adanya kubah lava baru. 
 
Sementara itu, intensitas kegempaan juga lebih tinggi ketimbang pekan lalu. Hasil pengamatan pemendekan jarak di gunung tersebut juga meningkat menjadi 15 dibanding pada bulan lalu yang stabil pada angka 11. 
 
"Deformasi Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM dari reflektor RB1 dan RB2 pada minggu ini menunjukkan adanya laju pemendekan jarak sebesar 15 sentimeter per hari," ujar Hanik. 
 
Hanik mengungkapkan, hasil pengamatan sepekan itu menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi sehingga status tetap siaga. Potensi bahaya guguran lava, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif, dan awan panas masih sejauh maksimal lima kilometer.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(LDS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif