Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya, Joni Wahyuhadi. (Medcom.id/Amal)
Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya, Joni Wahyuhadi. (Medcom.id/Amal)

RSUD dr Soetomo Surabaya Bantah Tolak Pasien Covid-19

Nasional Virus Korona rumah sakit rujukan covid-19
Amaluddin • 18 Mei 2020 09:12
Surabaya: Direktur Utama RSUD dr Soetomo Surabaya, Joni Wahyuhadi, membantah ada penolakan terhadap pasien yang terinfeksi covid-19 (korona). Hal ini mengklarifikasi informasi foto penolakan pasien yang beredar di media sosial.
 
"Ini fenomena menarik tentang sistem rujukan. Jadi tadi malam (Sabtu, 16 Mei), yang saya tahu persis terjadi di Soetomo, ada kedatangan pasien dengan (dugaan) covid-19 yang cukup banyak, sampai pagi itu tersisa 35 pasien di IGD," kata Joni, saat jumpa pers di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu malam, 17 Mei 2020.
 
Pria yang juga Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jatim itu, mengakui RS Soetomo sempat tidak menerima pasien untuk sementara waktu, karena memang masih ada pasien diduga covid-19 di ruangan IGD yang belum masuk ruang isolasi. Joni tidak membenarkan jika pihak menolak pasien covid-19.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Joni, tulisan dalam surat pemberitahuan itu dibuat oleh perawat untuk memberitahukan kepada pasien lain, bahwa ruangan yang dipakai untuk perawatan sedang dalam penyemprotan disinfektan. Sejak Sabtu sore sampai malam, total ada sebanyak 39 pasien datang ke IGD RS Soetomo.
 
RSUD dr Soetomo Surabaya Bantah Tolak Pasien Covid-19
 
Foto di media sosial diduga penolakan pasien covid-19 di RSUD dr Soetomo Surabaya. Foto: Istimewa
 
"Ada sebagian yang datang sendiri, sebagian lainnya diantarkan dengan ambulans. Sebagian lagi dibawa tim KMS 112 (command center Pemkot Surabaya), tanpa ada komunikasi dengan call center di Soetomo. Pasien dibawa begitu saja, ditaruh di IGD, terus ditinggal," ujarnya.
 
Karena itulah, lanjut Joni, yang seharusnya berlangsung disinfeksi ruangan sampai Minggu pagi sekitar pukul 08.00 WIB-08.30 WIB, masih ada sekitar 35 orang pasien di IGD belum masuk ruang isolasi. "Jadi seperti itu (merujuk pasien tanpa komunikasi) menyebabkan petugas kerepotan, untuk menempatkan mereka di mana, supaya tidak menular ke tempat lain. Makanya kawan-kawan di IGD menulis surat pemberitahuan itu, sebenarnya untuk meminta jeda waktu saja," katanya.
 
Joni kaget foto surat yang terpajang di pintu masuk IGD beredar luas hingga viral. Joni mengaku ada kesalahpahaman informasi yang diterima masyarakat.
 
"Saya tidak tahu siapa yang moto kemudian nge-share kemana-mana, sampai saya lapor juga ke Gubernur dan dapat WA dari banyak media. Sehingga pikir rumah sakitnya tutup, padahal ini jeda waktu untuk melakukan evakuasi dan disinfeksi ruangannya, khawatir kalau tidak disinfeksi bisa tertular ke yang lain," jelasnya.
 
Joni menyayangkan beredarnya pengumuman tersebut di media sosial dan menyebabkan kegaduhan di tengah masyarakat. Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dengan informasi yang belum pasti kebenarannya.
 
"Siapapun yang nge-share maksudnya dikaruniai keselamatan, yang kedua mohon kalau ada hal seperti ini, cobalah kalau sebelum dishare itu ditanya kenapa ada tulisan ini," tandasnya.
--
 

(WHS)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif