ilustrasi medcom.id/ Muhammad Rizal.
ilustrasi medcom.id/ Muhammad Rizal.

16 Daerah di Jatim Masuk Zona Merah Stunting

Nasional stunting
Amaluddin • 15 Februari 2020 15:56
Surabaya: Sebanyak 16 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur masuk zona merah stunting. Wilayah itu menjadi lokasi fokus (lokus) stunting pemerintah pusat.
 
Belasan daerah itu adalah Kabupaten Lamongan, Nganjuk, Trenggalek, Kabupaten dan Kota Kediri, Kota Batu, Kabupaten dan Kota Malang, Kabupaten dan Kota Probolinggo, Kabupaten Jember, Bondowoso, dan empat kabupaten di Madura yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep.
 
"Zona merah itu menjadi lokus stunting pemerintah pusat tahun 2020 di Jatim," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Jatim, Vitria Dewi, saat dikonfirmasi, Sabtu, 15 Februari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Vitria menjelaskan bahwa status zona merah stunting itu dikeluarkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Indikatornya beberapa wilayah masuk dalam kategori miskin. "Kami target lima tahun ke depan pada tahun 2023, angka stunting di Jatim turun 14 persen seperti harapan dari pemerintah pusat," jelas Vitria.
 
Selain zona merah, kata Vitria, juga ada zona biru stunting di empat daerah di Jatim, yaitu Kota Surabaya, Kabupaten Pasuruan, Sidoarjo, dan Nganjuk. Status zona biru itu berarti ada penurunan kasus stunting di daerah tersebut.
 
Stunting merupakan kasus gagal tumbuh pada anak usia 0-2 tahun, disebabkan oleh kurangnya konsumsi makanan bergizi saat usia hamil. Ada tiga faktor utama yang menyebabkan stunting, yakni sanitasi, pola makan, dan pola asuh.
 
"Penyebab utama stunting adalah kurangnya pemenuhan gizi. Hal ini diperparah dengan ibu hamil yang tidak memiliki pengetahuan memadai, soal asupan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan anak sejak di dalam kandungan hingga setelah melahirkan," ungkap Vitria.
 
Pemprov Jatim mengklaim telah melakukan berbagai strategi guna menekan angka stunting. Antara lain sinergitas terpadu antarlembaga, terutama dari unsur pemerintah, masyarakat atau komunitas, akademisi, pengusaha.
 
"Kami juga menggandeng ormas untuk mengedukasi masyarakat hingga tataran bawah. Kami juga minta bantu media untuk menyampaikan ke masyarakat, pentingnya mencegah stunting," pungkas Vitria.
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif