Warga mengambil air dari bocoran pipa PDAM di Dusun Ploso, Desa Tileng, Girisubo, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (25/6/2019). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah.
Warga mengambil air dari bocoran pipa PDAM di Dusun Ploso, Desa Tileng, Girisubo, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (25/6/2019). ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah.

Memasuki Musim Hujan, Gunungkidul Masih Kekeringan

Nasional kemarau dan kekeringan
Ahmad Mustaqim • 15 November 2019 18:47
Gunungkidul: Hujan yang terjadi di Yogyakarta belum mereta, termasuk di Kabupaten Gunungkidul. Situasi ini membuat Gunungkidul masih didera kekeringan. Anggaran yang habis, Gunungkidul berpotensi darurat kekeringan.
 
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edi Basuki, mengatakan anggaran pemerintah untuk bantuan air bersih sudah habis beberapa waktu lalu. Saat ini bantuan yang praktis bisa diandalkan hanya dari pihak swasta.
 
"Bantuan pihak swasta tinggal untuk lima sampai enam hari ke depan," kata Edy saat dihubungi, Jumat, 15 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kondisi ini rawan mengingat banyak wilayah di Gunungkidul masih membutuhkan bantuan air bersih. Ia mengatakan pihaknya masih menanti hingga 20 November untuk menentukan langkah apabila hujan tak kunjung datang.
 
"Jika sampai 20 November tidak hujan, kami akan berkoordinasi dengan Sekda untuk menetapkan status darurat kekeringan," jelas Edy.
 
Dari 18 kecamatan, 16 diantaranya terdampak kekeringan. Kekeringan ini berdampak ke 130 ribuan jiwa warga Gunungkidul.
 
Edy menyebut kondisi terparah ada di Kecamatan Girisubo dengan total wilayah delapan desa dan 21.718 jiwa terdampak. Lalu, diikuti Kecamatan Paliyan (enam desa dan 16.978 jiwa terdampak), Kecamatan Rongkop (delapan desa dan 9.922 jiwa terdampak, Kecamatan Tepus (lima desa dan 13.441 jiwa terdampak) dan Kecamatan Panggang (enam desa dan 8.310 jiwa terdampak.
 
Sementara di sisi selatan yakni Kecamatan Purwosari, Panggang, dan Paliyan belum turun hujan. Kondisi serupa juga terjadi di bagian utama; Kecamatan Ngawen dan Semin.
 
Edi mengatakan bulan November biasanya sudah memasuki musim hujan. BMKG, kata dia, memprediksi hujan baru merata pada dasarian ketiga bulan ini.
 
Sekretaris Camat Girisubo, Arif Yahya mengungkapkan, wilayahnya sempat sekali diguyur hujan. Sayang, hujan tersebut tak mempengaruhi debit air dan belum bisa ditampung di bak penampungan warga.
 
"Jadi masih butuh bantuan (air bersih). Anggaran kami sudah habis, tingga mengandalkan donatur," kata Arif.
 

(DEN)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif