Kasus ABU Tours Disidik Ulang
Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani
Makassar: Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan mengagendakan pemeriksaan kembali para saksi dalam kasus dugaan penipuan, penggelapan, dan pencucian uang perusaahaan travel umrah ABU Tours. Itu sesuai dengan permintaan Kejaksaan Tinggi Sulsel yang mengembalikan berkas kasus karena dianggap belum lengkap atau P19.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani mengatakan, Kejaksaan meminta penyidik untuk melengkapi keterangan para saksi berikut barang bukti yang masih kurang. Dalam kasus ini, dianggap masih ada peluang menetapkan tersangka baru.

"Sesuai petunjuk Kejaksaan, akan diperiksa lagi saksi-saksinya. Karena selain orang, bisa jadi korporasi atau perusahaan ABU Tours juga bisa jadi tersangka," kata Dicky di Makassar, Rabu 30 Mei 2018.


Dalam kasus ABU Tours, Polda Sulsel sejauh ini menetapkan dua tersangka. Masing-masing direktur utama dan pemilik perusahaan Muhammad Hamzah Mamba, dan mantan direktur keuangan bernama Muhammad Kasim.

Dicky menyatakan penyidik akan kembali memintai keterangan para direktur dan orang-orang dalam struktur perusahaan ABU Tours. Termasuk istri Hamzah Mamba, Nur Syariah, yang pernah menjabat komisaris perusahaan. Sebelumnya Polda telah memeriksa setidaknya 26 saksi dalam kasus ini.

"Seperti apa hasilnya, akan disampaikan lagi nanti. Apakah ada tambahan tersangka atau tidak," ujar Dicky.

Disinggung soal istri Hamzah, Dicky enggan berspekulasi terkait peluangnya menjadi tersangka. Menurut dia, itu akan ditentukan penyidik dari hasil pemeriksaan lanjutan. Namun sejauh ini, kata Dicky, belum ada arah ke sana.

ABU Tours dilaporkan ke polisi setelah menelantarkan 86 ribu lebih calon jemaah umrah. Jemaah berasal dari 16 provinsi dengan kerugian ditaksir di atas Rp1 triliun.

Dicky memastikan Polda tetap menelusuri aset-aset yang terkait dengan aliran dana ABU Tours. Sejauh ini dari yang dikumpulkan dari sejumlah daerah, nilainya baru mencapai Rp200 miliar lebih.

"Itu masih kurang. Uang jemaah, kan Rp1 triliun lebih," katanya.



(ALB)