Arif sopir bus pariwisata yang di-PHK saat ditemui di Solo, Jawa Tengah, Rabu, 20 Mei 2020. Antara/ Aris Wasita
Arif sopir bus pariwisata yang di-PHK saat ditemui di Solo, Jawa Tengah, Rabu, 20 Mei 2020. Antara/ Aris Wasita

Korban PHK Pulang Kampung Jalan Kaki Jakarta-Solo

Nasional mudik lebaran Virus Korona phk
Antara • 20 Mei 2020 19:33
Solo: Warga Kota Solo bernama Maulana Arif Budi Satrio,38, korban pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pandemi covid-19 nekat pulang kampung dengan berjalan kaki. Arif melakukan perjalanan dari Jakarta ke Solo karena tidak mampu membeli tiket bus umum yang harganya dinilai terlalu tinggi.
 
"Jadi tanggal 8 Mei 2020 sudah diumumkan kalau semua pekerja di tempat saya bekerja di-PHK. Itu yang saya pikirkan, kalau tidak ada pekerjaan ke depan bagaimana," kata Arif yang bekerja sebagai sopir bus pariwisata ini di Solo, Rabu, 20 Mei 2020.
 
Baca: PSBB Indramayu Diperpanjang Hingga 29 Mei

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengatakan pilihan tetap bertahan di Jakarta atau pulang ke Solo di masa pandemi ini harus dipikirkan masak-masak. Dengan pemikiran yang masak, akhirnya Arif membulatkan tekad nya untuk pulang ke kampung halaman karena di Jakarta sudah tidak mendapat pemasukan.
 
"Tetapi ketika saya cari tiket bus ternyata harganya luar biasa, sampai Rp500.000. Itupun yang datang Elf (minibus) yang jumlah penumpangnya melebihi kapasitas, kan saya takut," jelas Arif.
 
Akhirnya pada 11 Mei, warga Kelurahan Sudiroprajan, Kecamatan Jebres, Solo, ini memutuskan untuk pulang berjalan kaki. Selama perjalanan tersebut, ia tidak pernah dengan sengaja berhenti untuk tidur malam.
 
"Saya sering istirahat, tetapi sebentar-sebentar saja, istirahat paling lama kalau pas sahur sampai Subuh. Kemudian tanggal 14 (Mei) sore saya sampai Gringsing, Kendal. Saat itu karena terkendala biaya, saya tidak bisa melanjutkan perjalanan," ungkapnya.
 
Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menghubungi pengurus pusat Persatuan Pengemudi Bus Pariwisata di mana ia juga menjadi salah satu anggotanya.
 
"Kemudian saya dihubungkan dengan pengurus Jawa Tengah yang ada di Semarang. Alhamdulilah saya dapat dukungan penuh, bahkan saya juga dimarahi kenapa melakukan hal nekad seperti itu. Selanjutnya saya diminta menunggu saja di Gringsing dan pengurus yang di Semarang menjemput, kemudian saya diantar sampai ke Solo," kenang Arif.
 
Sesampainya di Solo, bapak satu anak ini langsung menuju ke rumah karantina, yaitu di Gedung Graha Wisata Niaga Solo. Saat menjalani tes kesehatan, menurut Arif kondisinya dalam keadaan bagus dan stabil.
 
"Waktu dicek kondisi saya bagus. Bahkan suhu tubuh 32 derajat celcius, saya memang dengan kesadaran sendiri langsung ke rumah karantina ini. Sekaligus saya ingin menunjukkan kepada semua orang bukan berarti orang yang dari Jakarta itu membawa virus," katanya.
 
Sesuai dengan aturan, ia akan berada di rumah karantina tersebut hingga 29 Mei 2020. "Jadi saya Lebaran di sini, tetapi banyak temannya. Saya juga belum ketemu keluarga, tetapi sudah memberi kabar kalau saya sudah sampai di Solo," pungkas Arif.
 

(DEN)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif